Berita

Tangkapan layar, telekonferen Risma kisahkan penanganan Covid-19 di Surabaya

Nusantara

Risma Ceritakan Mengapa Dia Marah-marah Soal Mobil PCR Tempo Hari, Ternyata Karena Di-PHP-in

SABTU, 06 JUNI 2020 | 19:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Walikota Tri Rismaharini (Risma) mengungkapkan alasannya marah-marah terkait pemindahan mobil PCR (Polymerase Chain Reaktion) Covid-19 bantuan Badan Nasional Penanggulangan Becana (BNPB), beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan di hari itu warga Surabaya sudah telanjur mengantre untuk melakukan tes swab Covid-19 sejak pukul 14.00 siang. Banyak tes swab yang menumpuk dan belum diketahui hasilnya. Ini membuat Risma gelisah karena mobil yang ditunggunya tidak kunjung datang. Mobil baru datang pukul 19.00.

Saat itu, Risma mengaku masih bisa menahan kekesalannya.


Risma mengisahkan kronolisnya. Ia mengontak Kepala BNPB Doni Monardo untuk meminjam mobil PCR. Setelah permintaan mobil PCR disetujui, Risma pun mengumpulkan sejumlah warga yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP), orang dengan risiko, dan orang tanpa gejala.

Mereka sebetulnya sudah melakukan tes swab yang pertama. Namun, untuk memastikan mereka betul-betul sehat, hasil negatif harus didapat setelah dua kali tes swab.

“Protapnya seperti itu,” ucap Risma, dalam acara telekonference, 'Ini Budi' Sabtu (6/6), yang juga disiarkan ke YouTube.

Jadi, setelah kecewa karena mobil PCR datang terlambat, kekesalannya bertambah karena besoknya mobil PCR itu ternyata dibawa ke luar kota.

“Oke, saya terima saat itu karena besok katanya sudah di Surabaya,” ujarnya mecoba bersabar.

Risma pun kembali meminta warga bersiap mulai pukul 07.00 keesokan harinya.

Namun, ternyata mobil PCR Covid-19 kembali dibawa lagi ke luar kota lainnya. Disitulah Risma mulai marah.

Risma merasa dipermainkan. Ia pun menghubungi seorang pejabat di Balai Kota Surabaya dan mengeluarkan unek-uneknya.

“Di situ saya marah. Mohon maaf, suara rakyat itu suara Tuhan, kita tidak bisa menyia-nyiakan mereka,” kata Risma. “Kan kasihan warga saya nunggu. Saya marahlah, mereka nunggu dari jam tujuh.”

Meski kecewa, Risma mengatakan hubungannya dengan Pemprov Jawa Timur baik-baik saja.

"Yang penting saya sudah bekerja keras. Sekali saja lengah dan keputusan salah maka berat risiko berat akan dialami masyarakat Surabaya," tegas Risma. 

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya