Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Soal Isu Kudeta, Jokowi Aman Kalau Cakap Kelola Faksi Dan Tidak Represif Terhadap Kritik

SABTU, 06 JUNI 2020 | 10:25 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Santernya isu kudeta Presiden Joko Widodo setelah aktivis senior Haris Rusly Moti dan Direktur Eksekutif LPI Boni Hargens menyebut kemungkinkan terbuka peluang kudeta dilakukan oleh faksi di internal, maupun kelompok oposisi Jokowi yang memanfaatkan isu pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah mengatakan, tidak akan terjadi sebuah kudeta atau penggululingan rezim apabila tidak ada isu bahkan kasus yang dijadikan sebagai pemantik dari kudeta tersebut.

"Soal adanya faksi, di kekuasaan manapun faksi politik pasti ada, hanya saja tidak akan berkembang menjadi penggulingan kekuasaan jika tidak ada pemantiknya," kata Dedi Kurnia Syah saat berbincang dengan redaksi, Sabtu (6/6).


Kendati demikian, pengamat politik jebolan Universitas Telkom ini menilai semua tergantung pada Kepala Negara dalam membaca situasi dan mengendalikannya.

Alih-alih ketika Presiden dikritik justru melakukan tindakan berlebihan dan represif maka gelombang kritik berpotensi semakin membesar.

"Semua bergantung Presiden Joko Widodo, kecakapan mengelola faksi, dan tidak represif terhadap kritik, akan memudah presiden untuk mendapat dukungan publik. Justru sebaliknya, jika Presiden mudah termakan isu kudeta dengan represif, justru akan menguatkan gelombang anti pemerintah," tuturnya.

Lebih lanjut, Dedi Kurnia menyatakan bahwa jika memang ada pihak-pihak yang memanfaatkan krisis pandemi Covid-19 untuk mengkudeta Presiden Jokowi. Maka pihak-pihak tersebut diyakini berada di internal pemerintahan.

"Jikapun benar ada tokoh yang hendak memanfaatkan krisis pandemi, maka sangat mungkin tokoh itu semestinya ada di dalam pemerintahan, karena pengambil alihan kekuasaan presiden tentu lebih mudah dilakukan oleh yang sedang berkuasa," pungkasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya