Berita

Risma marah-marah di depan awak media. Ia melontarkan protes pada seorang pejabat karena merasa dsabotase/Repro

Politik

Kritik Kemarahan Risma, Andi Yusran: Tidak Sepatutnya Pejabat Bersengketa Di Ruang Publik

SENIN, 01 JUNI 2020 | 05:26 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Aksi marah-marah Walikota Surabaya Tri Rismaharini di tengah pandemik Virus corona baru (Covid-19) Jumat (29/5) lalu masih mendapat sorotan.

Permasalahan yang bermula dengan tudingan bahwa Pemprov Jatim melakukan sabotase mobil bantuan BNPB seharusnya diselesaikan secara internal tanpa menimbulkan kegaduhan di ruang publik.

Pengamat politik Universitas Nasional, Andi Yusran menilai politisi PDIP itu sedang galau menghadapi Covid-19. Terlebih kota Surabaya merupakan epicentrum baru pandemi C-19, bahkan sebagian pihak ‘meramalkan’ Surabaya bisa menjadi Wuhan-nya Indonesia.


"Kegalauan Risma tersebut idealnya direspons positif oleh semua pihak termasuk pemerintah dan Pemprov Jatim dengan memberikan bantuan ekstra kepada Kota Surabaya. Di luar Jakarta, Surabaya layak mendapat prioritas dalam penanganan Covid-19," demikian kata Andi saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Senin dinihari (1/6).

Meski demikian, dalam menghadapi pandemik Covid-19 seharusnya Risma memberikan pelajaran yang baik pada masyarakat. Kata Doktor Politik Universitas Padjajaran ini, tidaklah patut seorang pejabat melakukan "sengketa" di ruang publik.

"Perilaku elite, pejabat dan aparatur dalam sebuah sistem birokrasi adalah satu kesatuan. Baik buruknya perilaku mereka adalah simbol bagi yang lainnya sehingga tidaklah patut antar pejabat atau aparat ‘bersengketa’ di ruang publik," jelas Andi.

Lebih lanjut Andi melihat kecenderungan pejabat yang melakukan "perang terbuka" antar elite terindikasi hanya sekadar membangun populatitas. Dalam situasi negara menghadapi wabah Covid tindakan Risma tidak bisa dibenarkan.

"Ada indikasi di beberapa kasus ‘perang terbuka’ antar elite, pejabat atau aparatur negara terjadi di ruang publik sekadar mengejar popularitas atau sedang membangun pencitraan," pungkas Andi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya