Berita

Mendikbud Nadiem Makarim/Net

Nusantara

Mendikbud Harus Mampu Lindungi Siswa Dari Ancaman Covid-19

SELASA, 26 MEI 2020 | 14:24 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Kemdikbud telah mengumumkan dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021 pada Juli mendatang. Meski demikian, masih banyak kesimpangsiuran mengenai bagaimana cara pemerintah membuka kembali sekolah-sekolah di tengah pandemi.

Pemerintah sendiri telah mengedarkan dokumen panduan new normal, termasuk untuk area pendidikan (sekolah). Namun, Menteri Nadiem Makarim berkilah bahwa keputusan terkait pembukaan kembali sekolah merupakan ranah Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

"Saya tidak bisa memberikan statement apapun, (karena) keputusan itu dipusatkan di Gugus Tugas," kata Nadiem saat rapat kerja virtual beberapa hari lalu.


Sikap yang ‘kurang jelas’ dari Kemdikbud itu sontak mengundang kritik dari berbagai kalangan. PGRI (Peratuan Guru Republik Indonesia), misalnya, menyatakan bahwa Nadiem seharusnya aktif meminta pendapat PGRI dan para ahli pendidikan. Sebab, keputusan penting mengenai pembukaan sekolah harus pula mempertimbangkan analisa dari berbagai pemangku kepentingan.

Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS) Yogyakarta bahkan meminta pemerintah tidak tergesa-gesa menetapkan tahun ajaran baru di tengah pandemi corona. Sebelum muncul keputusan Kemdikbud tentang permulaan tahun ajaran baru, PKBTS meminta Menteri Nadiem mengundurkan permulaan tahun ajaran baru pada Januari 2021.

"Kemdikbud hendaknya tidak menambah beban masyarakat terutama kelas menengah ke bawah yang sekarang kondisinya sedang terpuruk. Jika mereka masih dibebani dengan pencarian sekolah baru, tentu menambah stres dan menurunkan imunitas mereka," ujar Ki Darmaningtyas, pengurus PKBTS.

Sosiolog pendidikan dari Universitas Trunojoyo Madura, Dr. Khoirul Rosadi, sepakat dengan berbagai suara kritis yang meminta Menteri Nadiem meninjau kembali pembukaan tahun ajaran baru. Memang, sekolah-sekolah dapat memulai tahun ajaran baru dengan menggunakan metode pembelajaran daring. Namun, kebijakan Learning from Home (LfH) itu, selain dirasa kurang efektif , juga membebani keluarga.

"Berdasarkan pengalaman, ada banyak kendala dalam pembelajaran daring, baik dari sisi siswa, keluarga, para guru, juga kurikulum yang belum menyesuaikan dengan situasi pandemi. Selama kendala-kendala tersebut tidak dievaluasi secara transparan, pembelajaran daring hanya menambah beban orang tua murid yang sedang berjibaku melawan corona," katanya.

Rosadi juga mewanti-wanti agar pemerintah tidak melakukan pembukaan sekolah di saat kurva pandemi Covid-19 masih tinggi.
Sebab, hal itu dapat berisiko meningkatkan persebaran virus corona di kalangan pelajar. Argumen bahwa pembukaan sekolah ikut menggerakkan roda perekonomian, menurutnya, terlalu lemah jika dibandingkan dengan dampak penyebaran Covid-19 secara massal di sekolah-sekolah.

"Kita akan kesulitan menerapkan protokol-protokol new normal di sekolah. Secara psikologis, anak-anak usia sekolah, apalagi yang SD atau TK, memiliki dorongan untuk berbaur dengan teman-temannya. Interaksi antar siswa itu akan lebih sulit dikontrol," katanya.

Lebih lanjut, ia meminta agar Nadiem tidak menumpangkan rencana pembukaan sekolah pada agenda reopening kegiatan ekonomi yang saat ini sedang dimulai oleh pemerintah. Kesehatan dan kenyamanan para siswa, kata Rosadi, harus menjadi pertimbangan yang utama. Sebagai Mendikbud, Nadiem diminta berposisi tegas sebagai pengayom murid, orang tua, dan para pendidik.

"Menteri Nadiem harus membuktikan bahwa ia mampu melindungi para siswa Indonesia di tengah menaiknya kurva pandemi. Ingat, semua mata keluarga Indonesia saat ini sedang tertuju padanya," tandasnya.  

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya