Berita

Tentara Thailand berjaga-jaga saat kudeta 22 Mei 2014/Net

Histoire

Kudeta 22 Mei 2014, Untuk Kesekian Kalinya Militer Thailand Ambil Alih Kekuasaan

JUMAT, 22 MEI 2020 | 08:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Enam tahun lalu, militer Thailand mengambil alih kekuasan. Kudeta  tak berdarah ini dilakukan oleh Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Prayuth Chan-ocha pada Kamis 22 Mei 2014 silam.

Pengambilalihan kekuasan ini menyusul diberlakukannya kondisi darurat militer karena memuncaknya kerusuhan politik setelah Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mundur karena dugaan korupsi.

Prayuth kemudian menunjuk dirinya sendiri sebagai Perdana Menteri (PM) sementara Thailand.


Thailand termasuk negara yang paling banyak mengalami kudeta. Sejak Revolusi Siam 1932, tercatat telah terjadi 11 kali pengambilalihan kekuasaan oleh para pemilik senjata, baik dalam kudeta berdarah maupun kudeta tidak berdarah.

Paul Chamber, seorang ahli Asia Tenggara dari Chiang Mai University bahkan menyampaikan sedikitnya ada 30 upaya kudeta sejak 1912. Hal ini menunjukkan proses intervensi militer dalam politik di Thailand, nyaris tak pernah bisa dilepaskan.

Catatan momen-momen bersejarah di Thailand yang berhubungan dengan kudeta militer terangkum di sini, seperti dikutip dari Washington Post dan Reuters.

1932
Inilah peristiwa yang disebut sebagai revolusi Siam. Momen titik balik dalam sejarah Thailand. Pelakunya adalah sekelompok anggota militer yang disebut sebagai 'four musketeers' melengserkan raja Prajadhipok. Aksi ini membuat sistem monarki absolut tidak berlaku lagi. Ke depannya, Thailand menjadi negara dengan sistem monarki konstitusional.

1933
Perdana Menteri pertama Siam, Phraya Manopakorn Nititada, digulingkan oleh militer. Posisinya kemudian digantikan oleh Phraya Phahon, selama lima tahun ke depan.

1947
Militer Thailand kembali meggulingkan pemerintahan. Kali ini 'korbannya' adalah laksamana muda Thawan Thamrongnawasawat, yang banyak tersangkut skandal dan korupsi. Setelah kudeta, pemerintahan dipegang oleh Khuang Aphaiwong, pendiri partai Demokrat Thailand.

1951
Tahun ini, kudeta dilakukan 'diam-diam' karena terjadi saat raja Bhumibol Adulyadej berada di Lausanne, Swiss. Kelompok militer kemudian menunjuk panglima tertinggi Phibunsongkhram sebagai perdana menteri.

1957
Phibunsongkhram kembali terpilih sebagai perdana menteri. Namun prosesnya diyakini penuh kecurangan. Massa menggelar aksi demo di beberapa wilayah. Raja Bhumibol tak senang dengan keadaan ini dan akhirnya terjadi kudeta oleh panglima Sarit Thanarat. Akhirnya dipilihlah Pote Sarasin sebagai pelaksana tugas pemerintahan.

1958
Pimpinan militer kala tu, Sarit, menggelar kudeta pada tahun 1998. Peristiwa ini disebut-sebut sebagai era baru otoriter di Thailand.

1971
Panglima tertinggi militer Thanom Kittikachorn melakukan kudeta atas pemerintahannya sendiri dan membubarkan parlemen. Langkah ini dilakukan untuk menekan kekuatan komunis yang berkembang saat itu.

1976
Sempat gagal pada 8 bulan sebelumnya, militer Thailand akhirnya bisa melakukan kudeta terhadap perdana menteri Seni Pramoj. Dalam siaran pers, laksamana Sangad Chaloryu mendeklarasikan diri sebagai pemimpin badan reformasi nasional Thailand yang bertugas mengatur UU di sana.

1977
Perdana menteri Thanin Kraivichien hanya berkuasa selama satu tahun. Dia dikudeta oleh militer yang dipimpin oleh laksamana Sangad Chalory. Dalam prosesnya, kudeta ini memakan korban.

1991
Perdana Menteri Chatichai Choonhavan tiba-tiba ditangkap militer saat dalam perjalanan menemui raja Thailand. Kala itu, dia hendak meminta izin untuk mengangkat seorang menteri pertahanan. Namun langkah ini dianggap sebagai upaya menyaingi elite militer.

19 September 2006
Militer membubarkan pemerintahan dan konstitusi tahun 1997 dicabut. Perdana Menteri Thaksin Shinawatra saat itu sedang mengikuti acara di New York. Lalu dia mendeklarasikan keadaan darurat di Bangkok.

22 Mei 2014
Kepala Militer Thailand Prayut Chan-O-Cha mengumumkan kudeta militer setelah berbulan-bulan terjadi kekisruhan dua kubu politik di Thailand. Prayuth melakukan kudeta pada Kamis 22 Mei 2014, kemudian menunjuk dirinya sendiri sebagai Perdana Menteri (PM) sementara Thailand.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

IRGC: Jika Netanyahu Masih Hidup, Kami Akan Memburunya

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:44

Benarkah Membalik Pakaian Saat Dicuci Bikin Baju Lebih Awet?

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:24

Kantor PM Israel Bantah Rumor Netanyahu Tewas

Minggu, 15 Maret 2026 | 15:12

KPK Isyaratkan Tersangka Baru dari Pihak Swasta di Skandal Kuota Haji

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:40

KPK Endus Modus THR ke Forkopimda Terjadi di Banyak Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 14:02

Zelensky Tuduh Rusia Pasok Drone Shahed ke Iran untuk Serang AS

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:51

LPSK Beri Perlindungan Darurat untuk Aktivis KontraS Korban Teror Air Keras

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:41

Trump Minta Tiongkok hingga Inggris Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:27

Serangan ke Aktivis Tanda Demokrasi di Tepi Jurang

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:20

KPK Bongkar Dugaan THR untuk Polisi, Jaksa, dan Hakim di OTT Cilacap

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:15

Selengkapnya