Berita

Aktivis buruh, almarhum Marsinah/Net

Nusantara

Marsinah Adalah Obor Kaum Buruh, Teladan Kekuatan Bagi Kami

SABTU, 09 MEI 2020 | 19:06 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Ketua Umum Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Jumisih mengingatkan kembali peristiwa keji yang menimpa Marsinah 27 tahun silam, tepatnya tanggal 8 Mei 1993.

Sosok buruh perempuan pabrik arloji itu ditemukan mati di Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Ia dibunuh oleh militer rezim otoriter.

“Marsinah adalah seorang perempuan, buruh, yang marah atas ketidakadilan,” kata Jumisih dalam keteranganya, Sabtu (9/5).


Saat itu, tiga belas kawannya diintimidasi oleh Kodim sehingga terpaksa mengundurkan diri. Pasalnya, di PT CPS – Catur Putera Surya, nama pabrik arloji tersebut, tengah terjadi pemogokan akibat pengebiran hak-hak buruh. Mulai perkara upah, cuti haid, cuti hamil, uang makan, uang transport hingga tuntutan membubarkan serikat pekerja yang dikangkangi pengusaha.

“Saat itu, Marsinah yang memimpin aksi mogok kerja para buruh,” terang Jumisih.

Marsinah dibunuh karena lantang menyuarakan kebenaran. Hasil forensik menunjukkan bahwa Marsinah mati dengan kondisi luka di sekujur tubuh. Kemaluannya hancur. Tulang panggulnya patah. Serpihan tulang berserakan di tubuhnya. Sebelum ajal menjemput, Marsinah diperkosa. Sebuah tindakan yang menggambarkan sempitnya pikiran, rendahnya mentalitas, serta nurani yang kering.

“Kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan terhadap Marsinah adalah pesan kotor Orde Baru agar perempuan tidak melawan, perempuan tidak layak memimpin pemogokan dan harus tunduk terhadap kekuasaan,” ujar Jumisih kesal.

Hingga kini, sambung Jumisih tak ada satupun pelaku pembunuhan keji itu yang dihukum. Tabir gelap masih menyelimuti kematian Marsinah. Hak hidup Marsinah adalah hak hidup warga negara yang tidak dilindungi oleh negara. Sebaliknya, negara berubah menjadi otot dan moncong senjata.

Tahun berganti, dan impunitas semakin mengakar. Hari ini, demokrasi seolah mundur kembali. Apapun yang diinginkan negara, rakyat dipaksa memenuhi. Aturan hukum diproduksi untuk menjerat buruh menjadi objek eksploitasi.

Seperti Omnibus Law, justru muncul untuk menjauhkan buruh dari kondisi sejahtera.

Intimidasi, kriminalisasi, dan ragam bentuk represi kembali dipertontokan, hari demi hari. Atas nama pembangunan, negara tampil dengan tangan besi.

“Namun, teladan Marsinah, adalah kekuatan bagi kami. Marsinah adalah obor, semangatnya tidak pernah mati,” tekan Jumisih.

Mengenang Marsinah, adalah mengenang semangat keberaniannya karena benar.  Untuk melawan ketidakadilan, ketamakan dan kekerasan, kami dari Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) menuntut kepada negara, mengusut tuntas pelaku pembunuhan Marsinah, berikan keadilan untuk Marsinah dan jadikan Marsinah sebagai pahlawan nasional.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya