Berita

Tim medis di Jepang mengenakan APD lengkap saat menaiki ambulans/BBC

Dunia

COVID-19

Dokter Waswas Sistem Kesehatan Jepang Ambruk Gara-gara Pandemi Corona

MINGGU, 19 APRIL 2020 | 16:43 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sejumlah dokter di Jepang memperingatkan bahwa sistem medis di negara itu bisa runtuh di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 yang terjadi.

Hal itu mulai nampak dengan sejumlah kasus yang muncul, seperti ruang gawat darurat yang tidak dapat mengobati beberapa pasien dengan kondisi kesehatan serius karena beban tambahan yang disebabkan oleh virus corona.

Selain itu juga ada kasus di mana satu ambulans yang membawa seorang pasien dengan gejala virus corona ditolak oleh 80 rumah sakit sebelum akhirnya dia dapat perawatan.


Pemerintah Jepang sendiri pada awal wabah, tampak mampu mengendalikan penyebaran virus corona. Namun kini, negeri sakura tampak kewalahan menangani sekitar 10 ribu kasus infeksi virus corona yang dikonfirmasi pada akhir pekan ini.

Di ibukota Tokyo saja, ada lebih dari 200 orang yang meninggal dunia akibat virus corona. Wilayah ini juga masih menjadi daerah yang paling parah terkena dampak virus corona di Jepang.

Banyak pihak di Jepang yang waswas kondisi tersebut akan membuat sistem kesehatan di Jepang runtuh. Karena itulah, sekelompok dokter di Jepang pun ikut turun tangan membantu rumah sakit dengan pengujian pasien virus corona potensial. Langkah itu diambil untuk meringankan beberapa tekanan pada sistem kesehatan.

"Ini untuk mencegah sistem medis dari kehancuran," kata wakil kepala asosiasi dokter Jepang, Konoshin Tamura.

"Semua orang perlu mengulurkan tangan bantuan. Kalau tidak, rumah sakit akan rusak," tambahnya, seperti dimuat BBC.

Di sisi lain, pemerintah Jepang juga terus meningkatkan upaya untuk mengerem penularan virus corona. Salah satunya adalah dengan melakukan lebih banyak tes virus corona dengan cara drive-thru.

Sebelumnya, Jepang banyak menuai kritik karena melakukan tes yang jauh lebih sedikit daripada di negara tetangganya. Para ahli mengatakan, ini telah membuatnya lebih sulit untuk melacak penyebaran penyakit.

Menurut data dari Universitas Oxford, bulan lalu, Jepang hanya melakukan 16 persen dari jumlah tes PCR (polymerase chain reaction) yang dilakukan Korea Selatan.

Selain itu, tes juga diatur oleh pusat kesehatan setempat, bukan pada tingkat pemerintah nasional. Padahal pengujian di fasilitas lokal banyak yang tidak diperlengkapi untuk melakukan pengujian pada skala besar.

Namun pekan ini, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengindikasikan bahwa pemerintah telah mengubah kebijakannya untuk menguji dan meluncurkan tes secara lebih luas.

"Dengan bantuan dari asosiasi medis regional, kami akan mendirikan pusat pengujian," kata Abe.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya