Berita

Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun/Net

Politik

Ubedilah Badrun: Program Prakerja Terkesan Ambil Untung Di Tengah Penderitaan Rakyat

MINGGU, 19 APRIL 2020 | 07:48 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Program Kartu Prakerja yang tengah diluncurkan pemerintah dinilai memiliki motif terselubung. Diduga ada upaya untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri dan kelompok ketimbang kepentingan rakyat banyak.

Dugaan itu sebagaimana disampaikan Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (19/4).

"Saya mencermati ada kesalahan besar terjadi di Istana Negara. Tentu fenomena itu terjadi karena motif staf khusus ternyata lebih terlihat mengutamakan kepentingan dirinya,” terangnya.


Ubedilah lantas mencontohkan apa yang terjadi pada Ruang Guru perusahaan milik Stafsus Presiden, Adamas Belva Syah Devara. Perusahaan ini telah ditunjuk sebagai salah satu aplikator Kartu Prakerja, yang anggarannya ditaksir triliunan rupiah.

“Ini memprihatinkan, seperti ada pola akal-akalan anak-anak muda Istana," kata Ubedilah.

Dia lantas merinci bahwa penerima Kartu Prakerja akan mendapatkan bantuan sebesar Rp 3.550.000. Dengan rincian biaya pelatihan sebesar Rp 1 juta, insentif setelah mengikuti pelatihan mendapatkan Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan sehingga mendapatkan Rp 2,4 juta, dan insentif survei pekerjaan sebesar Rp 50 ribu per survei dengan total tiga kali survei sehingga total Rp 150 ribu.

Pengamat dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mengatakan bahwa penerima manfaat kartu ini ada sebanyak 5,6 juta orang, sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi sangat besar.

Namun demikian, dari rincian biaya pelatihan tersebut, akan banyak dana yang larinya ke perusahaan terkait. Sebab biaya pelatihan untuk pemegang Kartu Prakerja tak sebanding dengan bidang latihannya.

“Misalnya kursus pembuatan kue atau makanan biayanya Rp 600 ribu, kursus marketing bisnis di Facebook biayanya mencapai Rp 900 ribu. Tentu ini terkesan ambil keuntungan terlalu besar di tengah penderitaan rakyat akibat Covid-19," ungkap Ubedilah.

Dengan demikian, kata Ubedilah, seharusnya Presiden Jokowi melakukan evaluasi total terhadap stafsusnya yang berasal dari kalangan milenial. Mereka harus sadar, jangan mengambil keuntungan pribadi dari jabatan yang diemban saat ini.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya