Berita

Luhut Binsar Pandjaitan/Net

Publika

Jenderal Yang Melawan Diri Sendiri

RABU, 15 APRIL 2020 | 09:59 WIB

PADA 12 Maret 2020 saya menulis bahwa statistik Covid-19 yang diumumkan pemerintah mencurigakan. Angka itu hanya menyajikan puncak gunung es dari kenyataan yang sebenarnya. Pertanyaannya kemudian, mengapa hal itu dilakukan?

Jawabannya termuat dalam berita di bawah ini. Menko Luhut menyebutkan bahwa kematian karena Covid-19 di Indonesia Cuma 500! Luhut kemudian membandingkannya dengan Amerika Serikat yang memiliki tingkat mortalitas 22.000 orang. Hebat, Indonesia!!

Luhut belum boleh menepuk dada lebih jauh, surat BEM se Indonesia berhasil memaksa Presiden Jokowi memerintahkan pembukaan data real lebih rinci, terungkap fakta 139.137 ODP dan 10.482 PDP. Angka menggambarkan bahwa kenyataan wabah Covid-19 lebih mengerikan.


Saya jadi heran, kenapa sih dalam keadaan mengharu-biru seperti ini Menko Luhut masih sempat-sempatnya memamerkan dada?

Tidak ada yang harus dibanggakan sekalipun angka 500 itu benar!

Lima ratus orang itu nyawa yang tidak ternilai harganya. Lagipula, perang melawan virus baru dimulai, baru seminggu lalu PSBB pertama diberlakukan di Jakarta. Tidak ada yang bisa diklaim, peluru belum masuk magazin.

Sebagai mantan jenderal Luhut mestinya tahu perang melawan virus sama sekaligus tidak sama dengan perang yang ia pelajari akademi militer. Perang itu butuh kesatu-paduan seperti perang pada umumnya.

Namun ini perang melawan virus, garis depan perang itu adalah orang awam. Senjata mereka adalah kewaspadaan. Mereka membunuh virus dengan cara mencegah virus itu menyangkut dalam tenggorokan mereka.

Oleh karena itu strategi utama perang ini adalah keterbukaan. Rakyat diajar dan disuplai dengan informasi yang benar, dimana virus itu berada dan bergerak kemana. Virus itu bergerak bersama siapa dan diam di benda macam apa.

Seperti awan, virus berjalan dalam klaster dari orang-orang terinfeksi. Dimana saja klaster itu, berapa terinfeksi, berapa bergejala, berapa dalam pantauan, berapa mati.

Perang dalam klaster itu seperti gerilya. Apa beda perang gerilya dengan perang teritorial klasik? Perang gerilya membutuhkan informasi yang sangat detil tentang musuhnya.

Kesal saya harus kuliahi jenderal tentang perang. Kan mestinya dia lebih tahu? Tetapi kenapa bikin pernyataan amatir seperti di bawah ini?

Tidak ada satupun alasan membenarkan pernyataan Menko Luhut. Tidak ada manajemen wabah yang luar biasa hebat, corona tidak kurang menular di iklim yang terlalu panas dan terlalu lembab, tidak ada kekebalan khas Indonesia, tidak ada jamu terlalu ampuh.... Lantas apa yang dipakai untuk menjustifikasi Indonesia hebat mengurus Covid-19 ?

Publik sekarang mengetahui bahwa statistik Covid-19 yang diumumkan pemerintah tidak dimunculkan sebagaimana adanya. Angka-angka disajikan setelah dipilih-pilih dan disaring dengan kriteria arbiter.

Katanya, ágar rakyat tidak panik. Itu alasan konyol. Bila rakyat adalah tentara, tentara tidak panik lantaran diberi informasi jujur, tentara panik kalau tidak ada panduan dan kepemimpinan.

Lebih dari itu, karena rakyat adalah garis depan dalam perang melawan coronavirus, membohongi rakyat sama saja dengan membunuh mereka. Rakyat tidak bisa membangun perkiraan tepat, kurang antispasi atau hilang kewaspadaan. Mereka bisa terbunuh karenanya.

Jenderal, kenapa anda melawan logika sendiri?

Radhar Tribaskoro

Aktivis pergerakan.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya