Berita

Ka'bah di Kota Mekkah/Net

Muhammad Najib

Arab Dan Non Arab Dalam Perspektif Politik

KAMIS, 09 APRIL 2020 | 14:38 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

"TIDAK ada perbedaan antara Arab dan Ajam (non Arab)", demikianlah penggalan kalimat (hadits) yang menjadi rangkaian dari khutbah yang disampaikan Rasulullah pada haji Wada'.

Hadits yang bernada serupa yang sering dikutip oleh para pegiat HAM dan tokoh-tokoh humanis antara lain: "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi manusia atau kemanusiaan".

Oleh para mubaligh, hadits ini sering digandengkan dengan ayat Al Qur'an yang berbunyi: " Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa" (Al Hujurat: 13).


Bagi para ilmuwan sosial, hadits dan ayat Al Qur'an di atas dijadikan landasan untuk menempatkan Islam sebagai agama yang sangat egaliter sekaligus humanis. Egaliter dalam pengertian persamaan kedudukan atau derajat manusia, dan tidak membedakannya karena keturunan, atau karena perbedaan warna kulit.

Pertanyaannya kemudian, dari mana asal atau sebab-musabab munculnya strata sosial berdasarkan darah atau keturunan di banyak negara Arab? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita menyepakati terlebih dahulu siapa sebenarnya yang dumaksud Arab.

Ada banyak teori tentang suku-suku Arab, yang bila disederhanakan dapat dibagi menjadi: Pertama, Arab Al Aribah atau Arab murni yang berasal dari keturunan Ya'rub bin Yashjub bin Qathan, dikenal dengan sebutan Arab Qahtani.

Mereka merupakan keturunan Nabi Hud yang banyak menetap di jazirah Arab bagian Selatan yang dikenal dengan Yaman.

Kedua, Arab Al Musta'ribah atau Arab pendatang, yaitu suku-suku yang berasal dari keturunan Ma'ad bin Adnan, yang dikenal dengan Arab Ma'adi atau Arab Adnani.

Mereka berasal dari keturunan Nabi Ismail dari Ibu Bani Jurhum, banyak berdomisili di wilayah Hijaz khususnya di sekitar Ka'bah.

Setelah datangnya Islam, semangat tabliq dan dakwah menggerakkan bangsa Arab ke banyak kawasan, terutama di Asia Tengah, Asia Barat, Asia Selatan dan Afrika Utara.

Didukung oleh semangat yang tinggi, tentara yang kuat, belakangan oleh kemajuan ekonomi serta penguasaan sain dan teknologi ikut menopang, sehingga wilayah kekuasaan Islam berkembang luas dengan sangat cepat.

Wilayah-wilayah dengan peradaban lebih rendah kemudian ter-Arab-kan, atau mengelamai Arabisasi.

Jadi negara-negara yang saat ini tergabung dalam Liga Arab sebagian besar karena proses ini. Ciri-cirinya, mereka mengadopsi bahasa, pakaian, selera makan, seni, termasuk sastra, musik, dan arsitektur yang melekat pada bangsa Arab.

Sementara bangsa-bangsa dengan peradaban setara atau lebih tinggi, seperti Persia, Turki, dan India hanya mengalami akomodasi atau asimilasi terbatas. Mereka tetap menggunakan bahasa sendiri, sedangkan pakaian, selera makan dan seni mengalami pengayaan saat bersentuhan dengan budaya Arab.

Masalah kuatnya pertalian darah atau keturunan, disamping menjadi bagian dari sejarah dan budaya suku-suku Arab yang hidup di padang pasir, juga muncul sebagai bagian dari budaya politik baru yang dikembangkan oleh Bani Umayyah (pasca Khalifahurrasyidin) sejak Muawiyah berkuasa, dilanjutkan oleh Abbasiah, dan terus bertahan sampai sekarang.

Bahkan di era Abbasiah lebih parah lagi, karena Dinasti Abbasiah yang dibangun oleh keturunan Abbas tumpang-tindih dengan keturunan (lazim disebut duriah atau duriat) Rasulullah.

Di era ini hubungan darah atau silsilah keturunan, akan sengat menentukan strata sosial termasuk karier seseorang di kerajaan (khilafah). Dengan kata lain dalam sistem politik dinasti, akses politik sangat ditentukan oleh hubungan darah atau keturunan.

Berarti dapat dikatakan, sejatinya hanya di era Rasulullah dan para sahabat yang kehidupan pribadi maupun sosialnya sangat diwarnai oleh nilai-nilai Islam. Pada saat ini nilai-nilai Islam mampu meredam kultur kabilah yang sudah mendarah-daging bagi bangsa Arab.

Sedangkan setelah era Rasulullah dan para sahabat, semangat dan kultur pra-Islam kembali muncul dan menenggelamkan nilai-nilai Islam, khususnya dalam politik yang ditandai oleh munculnya politik dinasti atau dinasti politik.

Apa yang terjadi dan dialami bangsa Indonesia, sangat berbeda dengan dua bentuk proses yang dialami oleh bangsa-bangsa yang berada di sekitar jazirah Arab. Secara geografis Indonesia sangat jauh, sementara wilayahnya yang berbentuk kepulauan dan didominasi oleh laut.

Ketika kapal laut menjadi sarana tranportasi antar bangsa, wilayah Indonesia menjadi tempat perlintasan (melting point). Bangsa-bangsa besar seperti Eropa, Arab, Turki, Persia, India, dan China ikut mewarnai sejarah dan budaya kita.

Hal inilah yang membentuk karakter dan budaya bangsa Indonesia, disamping akomodatif juga sangat luwes dan elastis. Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya