Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Made In Indonesia

RABU, 25 MARET 2020 | 11:29 WIB

KIRIMAN APD yang dijemput pesawat Hercules milik TNI dari Shanghai, China, ternyata menimbulkan kehebohan. Pemicunya adalah adanya dus APD overall yang bertuliskan "made in Indonesia" dan berhuruf Korea. Penjelasan simpang siur.

Yang paling ekstrem adalah penjelasan dari BNPB yang menyebut bahwa pakaian Disposable Protective Overall tersebut bukan barang impor, tetapi barang produk Indonesia yang akan diekspor ke Korea. Katanya, barang rencana ekspor ke Korea tersebut tertahan oleh Bea Cukai. Akhirnya setengah untuk Korea setengah lagi untuk Indonesia. Prosedur yang aneh juga. Bea Cukai perlu memberi penjelasan.

Fakta mendatangkan APD dari China tentu tak terbantahkan. Menhan Prabowo langsung yang mengkoordinasi "penjemputan" dari Shanghai. Simpang siurnya adalah bantuan atau pembelian.


Semestinya dengan pola "penjemputan" keberadaan APD seperti itu adalah bantuan. Masih ada yang berpandangan dan meyakini APD tersebut sebagai impor barang yang memang dibeli.

Meskipun di tengah situasi gawat dan darurat atas wabah virus corona, akan tetapi segala sesuatu harus tetap transparan dan terklarifikasi.

Jangan biarkan kondisi menjadi simpang siur. Apalagi saling klaim jasa. Di samping itu tentunya pengawasan ketat terhadap kemungkinan korupsi juga harus dilakukan.

Kembali ke "made in Indonesia", kabar gembiranya adalah pabrik di Indonesia memiliki kemampuan untuk membuat APD yang dibutuhkan. Keberadaan pabrik tersebut perlu diketahui dan potensial untuk didorong membuat lebih banyak lagi. Pemerintah dapat membeli dengan harga yang lebih murah dibandingkan barang impor.

Jika "made in Indonesia" ternyata adalah impor dari Korea lalu masuk China dan kembali ke Indonesia tentu menimbulkan tanda tanya lanjutan. Kok bisa?

Meskipun berfikir positif harus didahulukan, akan tetapi situasi negatif juga bisa terjadi. Jika terjadi apa-apa misal "terpapar virus" pada APD termaksud, maka pertanggungjawaban tentu menjadi ada pada "made in Indonesia".

Bisnis itu sah-sah saja, akan tetapi jangan sampai terjadi "mencari kesempatan dalam kesempitan". Baik pengusaha swasta, BUMN, atau pejabat birokrasi. Anggaran Negara yang digunakan secara bebas dengan alasan "force majeur".

Pihak yang leluasa bermain dengan mengeruk keuntungan "besar-besaran" harus diawasi serius. Mereka adalah ODP atau mungkin PDP.  Penular virus yang tak kalah berbahaya.

Berbisnis "made in Indonesia" jangan menghalalkan segala cara. Beli disebut bantuan. Atau dari pembelian berujung bagi-bagi fee.
Rakyat tetap saja menjadi objek penderita.

M Rizal Fadillah

Pemerhati Politik dan Kemasyarakatan

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Marak OTT Kepala Daerah, PKB Minta Evaluasi Desain Pilkada

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:25

Program Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 288.865 Sekolah

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:20

8 Dekade BNI Tumbuh Bersama Indonesia dalam Semangat Swadharma Bhakti Nagara

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00

10 Biksu Thailand Tewas Tertabrak Pikap yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:47

Kemandirian Energi, Masa Depan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:42

UMiMAX Pertamina Bantu Masyarakat Rentan Kembangkan Usaha

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:30

Lewat X-ray, Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkotika

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:24

13 Negara Pastikan Tempat di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Aktivis Tibet Tewas Bakar Diri di Dekat Markas PBB New York

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Bupati Langkat Syah Afandin Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:11

Selengkapnya