Berita

Muktamar Muhammadiyah Solo/Net

Muhammad Najib

Menyongsong Muktamar Muhammadiyah Dan Menanti Rumusan Islam Berkemajuan

SABTU, 21 MARET 2020 | 08:35 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

DARI jumlah pengikut Muhammadiyah dikatakan kalah besar dengan NU, akan tetapi dari segi amalusaha seperti sekolah, rumah sakit, dan berbagai pelayanan sosial termasuk asetnya, maka seluruh peneliti menyepakati bahwa Muhammadiyah bukan saja terbesar di Indonesia, akan tetapi bukan mustahil terbesar di dunia.

Merujuk pada dimensi sosial dan kesejarahan, tidak diragunkan lagi besarnya pengaruh Muhammadiyah terhadap paham keagamaan dan kehidupan sosial umat Islam di Indonesia.

Itulah sebabnya, Muktamar Muhammadiyah yang akan diselenggarakan di Kota Solo [ada 24-27 Desember mendatang perlu mendapatkan perhatian.


Jika menengok ke belakang, Persyarikatan Muhammadiyah telah berkontribusi besar dalam sejumlah masalah: Pertama, dalam meluruskan paham keagamaan sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah.

Kedua, Muhammadiyah telah berjasa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui amal usaha bidang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai universitas yang tersebar di seluruh tanah air, termasuk di Papua dan NTT dimana mayoritas penduduknya non Muslim.

Sejumlah peneliti bahkan sampai pada kesimpulan, bahwa meningkatnya jumlah kelas menengah Muslim di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran Muhammadiyah.

Ketiga, melalu rumah sakit, klinik, PKU, BKIA, dan sejumlah tempat pelayanan kesehatan, Muhammadiyah diyakini telah berjasa dalam meningkatkan kualitas hidup khususnya terkait dengan kesehatan fisik masyarakat Indonesia.

Melalui berbagai program pendidikan kesehatan masyarakat yang dikembangkan Muhammadiyah, telah memberikan konstribusi pada kesadaran masyarakat untuk membangun budaya hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, dan ikut serta melestarikan lingkungan hidup.

Keempat, melalui panti asuhan anak yatim dan panti jompo, serta berbagai bentuk kegiatan sosial termasuk saat bencana menimpa masyarakat, Muhammadiyah telah berhasil mengurangi beban masyarakat sekaligus menolong kesengsaraan ummat.

Pertanyaannya kemudian, apakah semua ini dinilai cukup untuk melangkah ke depan? Tentu semua prestasi di atas harus dipertahankan, akan tetapi tuntutan baru yang tidak kalah pentingnya tidak boleh diabaikan.

Pertama, perubahan kehidupan sosial, politik, maupun ekonomi yang dipicu dan dipacu oleh kemajuan sain dan teknologi menuntut panduan Muhammadiyah  agar perkembangan kehidupan masyarakat di satu sisi mampu meningkatkan kesejahteraan lahiriah, dalam waktu bersamaan juga mampu meningkatkan kualitas spiritualnya.

Karena itu, perguruan tinggi Muhammadiyah harus dijadikan pusat-pusat unggulan, baik dalam bidang sain dan teknologi, maupun ilmu-ilmu sosial dan keagamaan. Mengingat dakwah kedepan, tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional seperti yang telah dilakukan selama ini.

Kedua, strategi kebudayaan baik dalam arti bagaimana menghadapi derasnya pengaruh budaya yang datangnya dari luar negri, juga bagaimana mengakomodasi kearifan lokal yang muncul dari budaya setempat.

Harus diakui tidak semua yang datang dari luar itu buruk, begitu juga tidak semua yang tumbuh dari masyarakat setempat sesuai dengan nilai-nilai Islam. Karena itu, perlu kemampuan untuk memilah dan memilih.

Ketiga, gencarnya gerakkan Islam atau dakwah yang dilakukan oleh berbagai organisasi Islam yang berasal dari sejumlah negara yang telah menimbulkan friksi-friksi di masyarakat. Harus diakui bahwa kemasan-kemasan baru telah memberikan daya tarik tersendiri,  walau isinya belum tentu cocok untuk masyarakat Indonesia. Mengingat setiap gerakan keagamaan lahir dengan sejarahnya sendiri dan tumbuh dalam lingkungan sosialnya yang belum tentu sama dengan Indonesia.

Islam washatiah yang moderat dan toleran yang selama ini dikembangkan Muhammadiyah perlu juga diberikan kemasan yang tidak kalah menarik, khususnya untuk generasi milenial.

Karena itu, gagasan Islam Berkemajuan yang kini didengung-dengungkan menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-48, harus dijabarkan agar setidaknya bisa menjawab tuntutan dari berbagai tantangan yang dipaparkan di atas. Wallahua'alam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya