Berita

Syahganda Nainggolan/Repro

Publika

Coronavirus Dan Orang-orang Miskin: Sebuah Renungan

SENIN, 16 MARET 2020 | 18:18 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

PAGI ini sebelum berangkat ke Realita TV, atau Sarita News, di Jakbar, di mana saya dipanel dengan dokter ahli paru, dr. Paris, terkait isu pandemik coronavirus, saya membaca berita South China Morning Post berjudul "Coronavirus: poor Indonesian families most at risk of sudden spike in infections".

Artinya orang-orang miskin  berada paling beresiko saat infeksi datang dengan lonjakan mendadak.

Dalan diskusi di Realita TV, yang akan di upload di YouTube video nanti, diskusi dengan dokter Paris terungkap bahwa dokter dan perawat sudah mulai ada yang korban (suspect). Suasana hari ini rumah sakit sudah kewalahan. Saya sendiri tadi sudah bertanya kepada dr. Erlina, RS Persahabatan, via WA, tentang kenapa mereka menolak memeriksa 30 wartawan istana kemarin. Jawaban dia juga: kewalahan.


Saya sudah membuat tulisan "lockdown" dua hari lalu dan tulisan "Coronavirus dan Nasib Negara Kita". Dalam tulisan itu saya sudah mengelaborasi pikiran pakar-pakar internasional yang menganalisa sifat eksponensial korban coronavirus ini.

Karena background saya yang kuat pada matematika, saya mampu membaca apa yang diuraikan Britta Jewell dan Nick Jewell, serta Tomas Pueyo, misalnya. Jika WHO sudah mengatakan pandemik dan para pakar epidemiologi statistik membuat proyeksi, tentu kita bisa membaca berlipatgandanya keburukan keadaan ke depan.
Dokter Paris, tadi mengkonfirmasi pikiran saya. Menurutnya situasi akan buruk sekali ke depan tanpa "Lockdown". Uraian dia tentang kemampuan test, lamanya hasil test (5 hari), keterbatasan perawat dengan spesifikasi kasus infeksi, dokter dan perawat yang sudah mulai terserang covid-19, jumlah rumah sakit terbatas dan hanya berorientasi kasus di pulau Jawa, dll, menunjukkan kalangan medis juga sudah pesimis. Menurut dia, satu-satunya jalan, adalah memutus transmisi virus, melalui "social distancing", atau secara tegas "lockdown".

Rahma Sarita tadi menanya pada saya, apakah benar motif saya mau menjatuhkan Jokowi dengan usulan Lockdown? Rahma merujuk pada pendukung-pendukung Jokowi yang menuduh anti Jokowi yang memanfaatkan isu coronavirus ini untuk kudeta atau setidaknya mempolitisasi.

Sesungguhnya isu coronavirus ini bukan lagi isu pertentangan Jokowi vs Oposisi. Isu pandemik adalah isu semua pihak. Virus Corona itu tidak mengenal Jokower atau kadrun. Virus ini akan menghampiri siapapun kita. Karena kita berinteraksi secara acak dengan manusia-manusia lain di dalam urusan sosial. Saya misalnya, beberapa hari lalu, di panel dengan Deputi 2 Kantor Staf Presiden, yang mana saat itu istana ditulari virus oleh Menhub Budi Karya.

Sebelumnya saya tukar pikiran dengan kawan lama, Ali Mocthar Ngabalin, yang juga orang istana. Lebih dekat lagi, 3 hari lalu, saya dipanel diskusi dengan Boni Hargens, seorang pemuja Jokowi, di sebuah stasiun TV. Dia tentunya  juga  sering ke istana.
Kemungkinan virus itu sangat dekat potensinya datang ke saya. Apalagi sebelumnya saya suka nongkrong di Paloma, Menteng, tempat pertama sekali coronavirus ada tercatat. Dan saya juga sering ke RS Mitra, tempat pasien pertama  Coronavirus dirawat.

Jadi, meskipun saya anti Jokowi, urusan Corona Virus bukanlah front pertentangan. Urusan ini adalah urusan besar, urusan negara. Hanya kebersamaan yang mungkin membuat kita bisa mengatasinya. Kebersamaan harus dilihat dalam spektrum luas, baik saran, kritik, maupun kecaman.

Orang-orang Miskin

Karena riset saya soal buruh, baik untuk master maupun doktor, kepala saya langsung terhubung pada buruh, segera saya membaca berita South China Morning Post itu. Imaginasi saya langsung ke perkampungan Warakas di daerah Tanjung Priok, yang tempo hari saya bela (dalam tulisan) ketika mereka bersitegang dengan Menteri Yasonna Laoly.


Penulis adalah Ketua Dewan Syuro Serikat Buruh Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia, 98

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya