Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Warga Biasa Melawan Bank DKI

JUMAT, 13 MARET 2020 | 19:38 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

SEBIDANG tanah dan bangunan milik "The A Lin" di Pintu Besar Selatan dipakai Bank Pembangunan Daerah Djakarta Raya. Kala itu akhir tahun 1960-an.

Tiba-tiba pihak bank menjual aset itu. The A Lin ditawari ganti-rugi. Nominal tidak rasional. The A Lin tolak. Kemudian puteranya yang bernama "The Tjin Kok" dan saudara kandungnya menggugat pihak bank ke pengadilan.

Proses Pengadilan berlarut-larut. The Tjin Kok meninggal dunia. Putera-cum-Ahli Warisnya "Ham Sutedjo" meneruskan pertarungan di pengadilan.


"Bank Pembangunan Daerah Djakarta Raya" ganti nama jadi "Bank DKI". Gubernur (Pemerintah Daerah DKI Jakarta) pegang 99,98 persen saham. Sisanya (0,02 persen) milik PD Pasar Jaya.

Proses hukum selesai tahun 2006. Sudah Peninjauan Kembali (PK) pula. Putusan incraht MA mengharuskan Gubernur dan Bank DKI Wajib bayar. Nominalnya 2,233 miliar dengan bunga 12 persen per tahun sejak dari tahun 1962 sampai dibayarkan.

Tahun demi tahun berlalu. Putusan pengadilan diabaikan. Bank DKI tidak juga bayar ganti rugi. Maka pada tahun 2011 dilakukan "Sita Eksekusi". Bank DKI melakukan perlawanan namun akhirnya kalah.

Tahun 2013 Pemda Jakarta menggugat balik The Tjin Kok. Proses pengadilan berlangsung sampai tahun 2016. Lagi-lagi Majelis Hakim memenangkan The Tjin Kok.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengeluarkan peringatan untuk melanjutkan proses sita menjadi "Lelang Eksekusi". Waktu mau dilelang, Bank DKI minta kompromi sampai Maret 2017.

Pada bulan Maret 2017, Bank DKI menyatakan hendak meminta Legal Opinion dari Kejaksaan Tinggi yang ternyata memberi opini; "Bayar...!!" Namun syahdan, sampai sekarang masih belum dilaksanakan.

Ahli Waris Ham Sutedjo diping-pong antara Bank DKI, Biro Hukum, Badan Pengawas dan TGUPP. Hasilnya nihil.

Akhirnya Ham Sutedjo menemui kolega lamanya; Lieus Sungkharisma. Dia minta tolong. Akte Notaris mengesahkan Lieus Sungkharisma sebagai "Kuasa" (Substitusi) Ham Sutedjo.

Lieus Sungkharisma melihat ada ketidak-adilan. Dia cross-check post anggaran Bank DKI tahun 2016. Ada post Kasus The Tjin Kok dengan biaya konsultasi lawyer sebesar Rp2,3 miliar. Mata anggaran serupa muncul lagi tahun 2018. Nominalnya sama.

Jadi 2x Bank DKI bolak-balik konsultasi untuk perkara yang sudah diputus 'incraht' oleh pengadilan.

"Aneh, keputusan pengadilan sudah incraht kok masih konsultasi. Biayanya besar pula," kata Lieus Sungkharisma.

Lieus Sungkharisma diputer-puter antara Dirut Bank DKI, TGUPP dan Biro Hukum. Senasib Ahli Waris Ham Sutedjo. Angin-Sorgawi ditiupkan. Semilir. Sepoi-sepoi. Cuma janji-janji kosong. Tanpa realisasi. Akhirnya dia mengadu ke Ombudsman dan bicara di media.

Sejumlah aktivis seperti Amir Hamzah, Nur Lapong Guntur 45, Muslim Arbi dan lain-lain dukung Lieus Sungkharisma. "Demo aja Bank DKI," kata Nur Lapong.

Sugiyanto Ketua Katar main dua kaki. Safety player. Alasannya berteman dengan aparat Bank DKI.

Bank DKI panggil beberapa portal media yang menayangkan statement Lieus Sungkharisma dan Amir Hamzah. Pihak Bank ingin pasang iklan.

Ternyata ribet berurusan dengan BUMD. Puluhan tahun nggak selesai. Proses ketegangan masih berlangsung.

Bank DKI tidak pula memberi kepastian kapan mematuhi keputusan pengadilan. Gubernur tidak juga mengeluarkan instruksi supaya Bank DKI patuh.
Lieus Sungkharisma berpikir akan membawa kasus ini ke Bareskrim dan KPK.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya