Berita

Hand hanizier buatan UGM/Ist

Kesehatan

UGM Produksi Hand Sanitizer Untuk Cukupi Kebutuhan Universitas

SENIN, 09 MARET 2020 | 16:50 WIB | LAPORAN: MEGA SIMARMATA

Maraknya isu virus Corona atau Covid-19 sudah masuk Indonesia membuat masyarakat mencari masker serta hand sanitizer (cairan pembersih tangan) sebagai upaya antisipasi pencegahan.

Akibatnya, kedua barang tersebut menjadi barang langka dan kalau pun ada harganya cukup mahal, demikian dikutip dari website Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta
Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Agung Endro Nugroho, M.Si., Ph.D., Apt., mengaku terus berkomitmen mendukung upaya pencegahan penyakit-penyakit menular, salah satunya dalam menghadapi isu infeksi dari COVID-19.

“Pertama, mengadakan kuliah tamu mengenalkan Corona Virus dan penanganannya. Kedua, secara internal karena fakultas ini juga terkait dengan teknologi kefarmasian maka kemudian memproduksi sendiri hand sanitizer untuk kebutuhan fakultas," katanya, di Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Masyarakat, Departemen Farmasetika, Fakultas Farmasi UGM, Senin (9/3).

“Pertama, mengadakan kuliah tamu mengenalkan Corona Virus dan penanganannya. Kedua, secara internal karena fakultas ini juga terkait dengan teknologi kefarmasian maka kemudian memproduksi sendiri hand sanitizer untuk kebutuhan fakultas," katanya, di Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Masyarakat, Departemen Farmasetika, Fakultas Farmasi UGM, Senin (9/3).

Hanya saja terkait hand sanitizer ini kemudian menjadi viral. Lantas, beberapa unit, fakultas, bahkan universitas kemudian melakukan pemesanan atau mengajukan permintaan berkaitan dengan pengadaan hand sanitizer.

“Kita tidak keberatan dalam waktu pendek ini memproduksi hand sanitizer untuk kebutuhan fakultas, unit-unit, universitas dan lain-lain. Hanya saja, kita mengusulkan ini tidak saja program jangka pendek, tetapi program jangka panjang untuk mendukung program health promoting university," katanya.

Untuk jangka panjang, kata Agung, Fakultas Farmasi merekomendasikan yang berkaitan dengan kefarmasian ini kepada Apotek UGM untuk memproduksi dalam jumlah yang banyak agar bisa berkesinambungan.

Apotek UGM ini juga berafiliasi dengan Fakultas Farmasi UGM dan beberapa dosen ditugaskan di apotek tersebut untuk melakukan pembinaan.

Agung mengakui untuk mencukupi kebutuhan dalam jangka pendek saat ini, Fakultas Farmasi UGM melalui Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Masyarakat, Departemen Farmasetika terkendala bahan bakunya. Meskipun masih bisa mendapatkan bahan-bahan baku pembuatannya masih mahal sehingga produksinya terbatas jumlahnya.

“Per botolnya lebih mahal dibandingkan dengan hari-hari biasa. Ini karena stok di lapangan mulai berkurang karena kebutuhan meningkat. Ini hukum ekonomi karena kebutuhan meningkat, stok berkurang maka menjadi mahal," tuturnya.

Tidak hanya bahan baku dan komposisi pembuat hand sanitizer, kini botol kemasan pun mahal dan mulai menghilang dari pasar. Oleh karena itu, diimbau agar unit-unit, fakultas atau universitas yang telah memiliki  produk hand sanitizer untuk tidak membuang kemasan botolnya.

“Dengan cara seperti itu maka cukup membeli isi ulangnya dan Fakultas Farmasi UGM menyediakan isi ulang. Ke depan botol hand sanitizer dan isi ulang akan disediakan oleh Apotek UGM," terangnya.

Muvita Rina Wati, M.Sc., Apt, dari Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Masyarakat, Departemen Farmasetika, Fakultas Farmasi UGM mengatakan permintaan hand sanitizer di kampus UGM akhir-akhir ini cukup tinggi. Permintaan unit-unit, fakultas dan universitas sudah mencapai 500–700 liter.

Dari angka ini untuk beberapa pemesanan sudah dibatalkan terkait bahan baku yang menipis dan pengemas botol pam menghilang dari pasaran. Dengan demikian, bukan hanya mahal tetapi barangnya juga menghilang dari pasaran.

“Harga botol normal dari sebelum Virus Corona dan belum ada pemberitaan soal Corona ini hanya sekitar enam ribu rupiah, sekarang ini mencapai 14 ribu, naik dua kali lipat, sudah sampai inden tapi barangnya sampai sekarang belum ada kabar," katanya.

Muvita Rina mengaku pembuatan hand sanitizer cukup mudah dan formulanya sederhana. Menurutnya, prinsip antiseptik untuk membasmi mikroalga cukup dengan alkohol 60 persen.

Bahan-bahan lainnya antara lain gliserin, air dan hidrogenperoksida. Bahan-bahan tersebut tidak perlu diuji coba lagi karena berdasar formula dari WHO yang beberapa tahun lalu sudah pernah dirilis.

“Sudah ada bukti ilmiah terkait efektifitasnya sehingga kita mengikuti rekomendasi tersebut. Untuk air dengan pake Aquadesh (air yang disuling), juga pakai hidrogenperoksida dengan persentase sangat kecil yaitu 0,25 persen," ujarnya.

Dari 500–700 liter kebutuhan hand sanitizer di UGM, Fakultas Farmasi UGM dalam kondisi normal hanya mampu menghasilkan 200 liter dalam waktu sehari. Oleh karena itu, jika ingin replikasi maka saat ini cukup dengan alkohol dengan kadar minimal 60 persen.

“Ini alternatif karena mencari alkohol tidak sesulit mencari antiseptik. Kalau mencarinya hand sanitizer atau antiseptik untuk tangan di apotek akan lebih sulit. Dengan menggunakan alkohol 70 persen sebenarnya sudah cukup. Hanya saja kalau tidak dicampur gliserin untuk penggunaan sangat sering, kulit akan lebih kering," imbuhnya.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya