Target Presiden Joko Widodo yang akan menghapus angka kemiskinan ekstrem hingga 0 persen pada 2024 merupakan keinginan optimis. Namun, optimisme tersebut mesti melihat realitas tingginya angka kemiskinan Indonesia saat ini.
Begitu kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno kepada wartawan seusai mengisi diskui Populi Center, di Bilangan Senyan, Jakarta, Sabtu (7/3).
"Ya baguslah menghapus kemiskinan, tapi ke 0 persen.. Walaupun kita optimis, harus juga realistis," kata Sandiaga Uno.
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini mengungkapkan, berdasarkan data yang diperolehnya angka kemiskinan di Indonesia per 2019 masih 9,22 persen. Karena itu, keinginan Presiden Jokowi agaknya mesti realistis jika angka kemiskinan 0 persen.
"Kita ada dalam taraf keraknya kemiskinan, itu yang paling susah untuk diturunkan, dan harus dididik dengan kebijakan pendidikan, kesehatan, membangun kekuatan ekonomi keluarga," ujar Sandiaga Uno.
Atas dasar itu, Sandiaga Uno berharap pemerintah dan semua stakeholder terkait untuk duduk bersama merumuskan agar angka kemiskinan tetap turun dengan angka yang juga harus realiatis.
"Jadi, mungkin kita mesti duduk sama-sama melihat angka realistisnya berapa, tapi saya setuju kita harus turunkan secara signifikan angka kemiskinan ini," ujar Sandiaga Uno.
Sandiaga Uno menambahkan, meskipun Indonesia sudah dinobatkan sebagai negara maju oleh Amerika Serikat. Namun, hal itu hanya labeling sepihak dari Amerika Serikat terhadap Indonesia.
"Kita negara maju itu hanya label yang diberikan oleh Amerika kepada kita. Padahal kita lihat dari segi angka kemiskinan angka stunting, berapa target-target sustainable development goals, kita belum nyampe ke sana," tandasnya.