Berita

Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat/Net

Politik

Dengan Sangat Kecewa Duta Besar India Pertanyakan Apakah Membakar Bendera Negaranya Adalah Tindakan Yang Dibenarkan

SABTU, 07 MARET 2020 | 06:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat, mengecam aksi pembakaran bendera yang dilakukan oleh massa gabungan Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), dan Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Dengan hati yang kecewa ia mengungkapkan bagaimana jika itu terjadi kepada bendera Merah Putih.

"Apakah teman-teman semua mencintai dan menghormati bendera Merah Putih? Dan bila ada yang membakar bendera Merah Putih, apakah Anda akan menemui pembakarnya?" kata Rawat di Kedubes India, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (6/3) kepada media.


Rawat sendiri mengatakan tak mungkin ia menemui pembakar bendera negaranya. Menurutnya,  seseorang tidak berhak meminta sesuatu sampai harus melakukan pengancaman.

"Kalau Anda tidak melakukan sesuatu, apakah mereka misalnya orang India atau negara lain berhak membakar bendera Anda? Apakah itu bisa dijustifikasi (alasan) sebagai sesuatu hal yang benar?" tanyanya.

Rawat menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah Indonesia terkait ancaman Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif yang akan melakukan sweeping warga negara India di Indonesia, jika ia tidak menemui kelompok itu.

Rawat mengungkapkan, ancaman sweeping yang dilakukan massa aksi tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada di Indonesia. Ancaman seperti itu, lanjutnya, adalah hal yang dilakukan kelompok ekstrim.

"Nilai dari Indonesia itu apa sih? Apa sih nilai-nilai buat Indonesia, apakah bila ada ancaman (yang) tidak sesuai dengan nilai-nilai Indonesia, akan bagaimana sih sikap otoritas keamanan Indonesia, pemerintah di Indonesia?" tanyanya miris.

Ia merasa tidak perlu merespon ancaman dan aksi massa yang dilakukan FPI. Ia meyakini aksi yang dilakukan hanya untuk menakuti dan membuat panik.

"Golongan ekstremis ini idenya menyebarkan ketakutan sehingga orang-orang takut, sehingga orang-orang panik. Bila kita takut dan panik, mereka menang. Jadi kita tidak akan merespons hal-hal seperti itu," pungkas Rawat.

Aksi demonstrasi yang terjadi Jumat (6/3) dilakukan oleh massa dari kelompok FPI dan kelompok PA 212. Mereka mengecam aksi kekerasan yang terjadi di India yang menurut mereka banyak memakan korban warga Muslim.

Dalam orasinya, mereka menuntut Pemerintah Indonesia bertindak tegas atas tragedi kekerasan ini. Bahkan massa menuntut pemerintah memutuskan hubungan diplomasi terhadap India.

Kerusuhan yang terjadi di India diawali dengan aksi demo menentang UU kewarganegaraan. Sayangnya, unjuk rasa itu berubah menjadi konflik mematikan. Ditambah lagi adanya ujaran kebencian yang memobilisasi massa  hingga mendorong terjadinya bentrokan.

Para korban tewas kerusuhan India tidak hanya terjadi dari kalangan warga sipil, tetapi juga polisi yang tengah menjaga keamanan.

Minggu 1 Maret, kerusuhan tersebut mulai mereda. Toko-toko dan aktivitas mulai kembali normal setelah munculnya aksi damai dari masyarakat Jafrabad, wilayah yang paling berdampak kerusuhan.  Para kelompok ini membawa spanduk untuk menyampaikan pesan seperti "Selamatkan Kemanusiaan", "Persatuan Hindu-Muslim Zindabad", "Agama tidak mengajarkan kebencian" dan "Hindustan Zindabad".

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya