Berita

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat serahkan draf RUU Ciptaker ke Ketua DPR, Puan Maharani/RMOL

Politik

Pembahasan RUU Ciptaker Harus Transparan Dan Melibatkan Publik

SELASA, 03 MARET 2020 | 04:08 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA


Omnibus law Rancangan Undang Undang Cipta Kerja disebut sebagai strategi Presiden Joko Widodo mengubah kondisi ekonomi Indonesia. Salah satu alasannya adalah hutang yang menumpuk dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang defisit.
 
Demikian disampaikan pengamat hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat menjadi narasumber dalam diskusi Omnibus Law Ciptaker yang diadakan oleh Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Senin (2/3).

Menurut Mustholih, dibutuhkan investasi yang besar untuk mengatasi masalah ekonomi Indonesia. Omnibus Law, kata Mustholih akan mempermudah bisnis dan izin usaha di Indonesi, sehingga akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya ke Indonesia.

Menurut Mustholih, dibutuhkan investasi yang besar untuk mengatasi masalah ekonomi Indonesia. Omnibus Law, kata Mustholih akan mempermudah bisnis dan izin usaha di Indonesi, sehingga akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya ke Indonesia.

"Ada niat baik Presiden Jokowi untuk merubah kondisi Indonesia.  Butuh investasi yang besar agar permasalahan tersebut teratasi. Omnibus Law akan melancarkan bisnis dan ijin usaha," kata Mustholih, Senin (2/3).

Mustholih menyebutkan, berbagai penolakan tentang beberapa pasal RUU Ciptaker harus disikapi secara bijaksana. Pemerintah imbau Mustholih, harus melibatkan publik dan proses pembahasan harus terbuka.

"Adanya penolakan-penolakan terhadap sejumlah pasal harus disikapi secara bijaksana. Idealnya memang pembahasan UU harus terbuka dan melibatkan publik. Di balik sejumlah penolakan, inisiatif Jokowi menarik investor melalui Omnibus Law harus diapresiasi dan tetap dikawal," pungkas Mustholih.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya