Berita

Zeng Wei Jian/Net

Publika

Jakarta Banjir Dan ILC

RABU, 26 FEBRUARI 2020 | 14:13 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

BANJIR lagi. Di hari biasa. Klaim banjir di hari libur karena doa gubernur soleh patah. Air tak kenal hari.

Polemik Jakarta masuk ILC. Dua kubu kontra dikonfrontir. Ada kubu netral Indo Barometer M. Qodari. Surveinya menghasilkan kesimpulan; Pada persoalan mengatasi banjir, Anies Baswedan di bawah Jokowi dan Ahok.

Ahok dapet 40 persen, Jokowi 25 persen, dan Anies Baswedan 4 persen.


Survei dimasalahin. Samplingnya dari seluruh Indonesia. Pro Anies stressing data-based system sebagai alat ukur kinerja.

Tahun 2015, ada 702 RW tergenang banjir. Sekarang di tahun 2020, jumlah itu turun jadi 390 RW. Jadi Anies Baswedan berhasil turunkan zona banjir.

Teddy Gusnaidi dari PKPI membantah dengan menyatakan Ahok mengurangi kawasan banjir dari 2.200 tinggal 80 titik.

Survei bukan masalah data. Tapi persoalan persepsi. Publik seluruh Indonesia menilai Jokowi dan Ahok lebih capable handle banjir. Pemberitaan televisi berperan membentuk opini.

Anggota Dewan PDI-P Ida Mahmudah menuding Anies Baswedan tidak punya konsep preventive. Hanya turun saat banjir datang. Beda dengan Jokowi yang dinilai punya grand scenario solusi banjir masa depan.

Geist cholifah pro Anies menggelar fakta banjir hantam Jakarta sejak zaman dulu. Siapa pun gubernurnya.

Haters menyimpulkan strategi ini sama artinya menyerang semua gubernur pendahulu ngga sanggup handle banjir.

Bawa-bawa pendahulu berfungsi sebagai apologetic. Seolah menggunakan fenomena bandwagon effect. Karena yang lain begitu, ya nggak apa-apa dong kalau sekarang juga begitu. Pola pikir ini identik dengan "Asch paradigm".

Akhirnya Teddy Gusnaidi menghina geist cholifah sebagai "komisaris Ancol rasa jurubicara".

Paling sakit saat Teddy Gusnaidi mengatakan tidak benar bila menyatakan Anies Baswedan engga kerja. Justru karena dia kerja maka Jakarta jadi rusak.

Kalau Anies Baswedan tidur saja maka Jakarta akan baik. Karena Jakarta autopilot berjalan sesuai dengan sistem dan mekanisme yang diciptakan pendahulunya.

Paling brutal adalah serangan Guntur Romli yang mengulang adagium "Anies Baswedan menang pilkada karena dagang ayat dan mayat".

Faktanya seperti ini; Ahok dan Anies Baswedan masuk ronde II pilkada. AHY tumbang. Salah satu kunci sukses tim kampanye Basuki-Djarot adalah teror emak-emak. Dikatakan "KJP hilang jika Ahok kalah".

Para suami marah. Teror psikologis dibalas dengan ancaman enggak menyolati mayat Ahoker.

Check file lama. Anies-Sandi justru merilis perlawanan. Tolak ancaman. Menentang arus. Mereka yang akan memimpin sholat jenazah apapun pilihan politiknya. Keduanya tak ragu ambil resiko kehilangan suara haters Ahok yang bisa dikapitalisasi menjadi voters.

Paling teduh adalah statemen Anggota Dewan Syarif M.Si dari Fraksi Gerindra. Dia menyatakan kelemahan Anies Baswedan hanya satu yaitu enggak bisa marah.

Statement Syarif bagai tetesan air di gurun pasir yang terik. Jernih. Dingin. Menyegarkan. Khas tipikal semua kader Gerindra. Negara aman bila dipimpin oleh Partai Gerindra yang punya skill komunikasi dengan semua element.

Teddy Gusnaidi mengkonkritkan analisa Syarif. Hasilnya outcome solusi; Anies Baswedan harus segera punya Wakil Gubernur. Maka Ariza Patria sebaiknya lekas dilantik.

Solusi cadaz. Briliant. Jitu. Keren. Bukti baru kader Gerindra seperti Ariza Patria memang diterima semua golongan. Bahkan oleh mereka yang kritis dan oposisi.

Ngomong soal Jakarta, Jenderal Sutiyoso sing ada lawan. Gubernur terbaik. Solusi banjir ya normalisasi sungai. Relokasi. Enggak masalah geser warga. Effect urbanisasi adalah penyempitan 13 sungai. Orang pada tidur di bantaran.

Jenderal Sutiyoso mengatakan Anies Baswedan engga usah takut. Bangun rusun. Dialog. Pindahkan urban.

Pasti ada perlawanan dari LSM recehan dan aktivis jadi-jadian. Dimensi politik menggiurkan. Enggak heran mereka akan bunyi keras. Supaya mulutnya disumpal duit.

Pilihan cuma dua; turuti keinginan mereka, sumpal mulutnya dengan duit, atau Gebuk...!!

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak).

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya