Berita

Rapat kerja DPD RI bersama Kementerian Keuangan/RMOL

Politik

Fachrul Razi Sebut Otonomi Khusus Jadi Biang Kerok Papua Merdeka

SELASA, 25 FEBRUARI 2020 | 20:46 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Anggota Pansus dana otonomi khusus Papua Fachrul Razi menyampaikan biang kerok permasalahan di Papua dan Papua Barat adalah penyaluran dana otonomi khusus yang tidak tepat sasaran.

Pernyataan keras Fachrul Razi tersebut terlontar saat rapat kerja DPD RI membahas dana otonomi khusus dan prin biru otonomi khusus Papua paska 2022 bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara di ruang rapat Komite I, Komplek Parlemen, Senayan, Selasa (25/2).

Fachrul Razi menyampaikan Papua dan Papua Barat memiliki sumber daya alam yang kaya dengan luas bumi cenderawasih yang mencapai setengah dari Eropa.


“Saya ingin katakan bahwa pada tahun 2017 saja dengan prediksi Papua yang memiliki hampir dan katanya Rp. 2.000 triliun sumber emas yang ada di sana, itu bukan hanya emas, di situ juga ada tembaga dan perak bapak wamen,” ujar Fachrul Razi.

Pendapatan dari hasil tambang Papua sebesar Rp. 2 ribu triliun atau 1.500 miliar dolar Amerika Serikat di tahun 2017. Belum lagi PT. Freeport telah menyerahkan Rp. 2 triliun untuk negara yang disumbangkan bumi Papua.

“Sementara kita memberikan Papua, Rp.5 triliun, Papua Barat Rp. 2 triliun, jadi sepertu nyicil gitu lho. Mau ambil uang di Papua kembalinya nyicil selama 20 tahun, udah itu ditakut-takuti ini kita mau perpanjang apa enggak ya? Ini kan bahaya juga ini kan bom waktu ini,” urainya.

Menurutnya, rakyat Papua hanya mendapatkan 1 persen dari pendapatan yang dihasilkan dari segala kekayaan buminya.

“Tercatat dalam data saya di tahun 2017-2016 itu 44 juta dollar atau 33 juta dollar atau seimbang dengan Rp. 579 miliar, yang diterima itu hanya bunga satu persen yang diterima oleh rakyat, yang katanya itu adalah untuk masyarakat lokal, ininkan tidak adil saya merasa ini tidak adil,” jelasnya.

Dia meminta negara untuk transparan mengenai uang yang telah diambil dari tanah Papua dengan mengundang auditor internasional untuk dapat mengaudit pendapatan di Papua.

“Kenapa harus takut? Katanya kita negara yang berdaulat nah yang celakanya adalah saya katakan bahwa 242trilun dana yang begitu besar dikembalikan titalnya itu tidak representatif, wajar ketika warga Papua banyak yang bergejolak,” tegasnya.

Fachrul Razi mengatakan seharusnya pemerintah Indonesia bisa menjadikan rakyat Papua sebagai shareholder bukan stakeholder.

Dengan menjadikan Papua sebagai stakeholder, kata dia, secara tidak langsung Indonesia tengah mempersiapkan pelepasan Papua.

“Secara enggak langsung ini mohon maaf kita hari ini menjadi panitia melepaskan Papua menjadi negara yang merdeka. Percayalah kalau hal itu akan terjadi," ungkapnya.

"Negara tidak adil, bagi saya tidak adil anggaran begitu besar, dikembalikan ke Papua itu sangat kecil sekali,” tandasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya