Berita

Akbar Faizal/Net

Politik

Ogah Layani Personal, Akbar Faizal Tantang Nasdem Bantah Hasil Riset 'Terpapar Dinasti Politik'

SABTU, 22 FEBRUARI 2020 | 09:47 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Hasil riset Nagara Institute yang menyatakan Partai Nasdem partai politik paling oligarkis dan terpapar politik dinasti menuai reakai beragam.

Ada yang meraguka kredibilitas lembaga riset tersebut, hingga pendiri lembaga NI yang notabene kader Nasdem Akbar Faizal dikaitkan dengan pencalonannya yang gagal pada Pileg 2019.

Direktur Eksekutif Nagara Institute, Akbar Faizal enggan menanggapi pernyataan yang menyerang dirinya secara personal. Dia pun menantang pihak-pihak tersebut membantah risetnya dengan karya ilmiah serupa.


"Saya tidak perlu menanggapi yang begituan ya, kok dibawa ke wilayah personal ya. Saya punya jawaban untuk itu. Tapi ngapain aku layanin itu," tegasnya kepada redaksi di Kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (21/2).

"Kalau memang membantah itu, coba hadapi dengan akademis pula, dengan intelektual pula gitu. Saya bicara disitu sebagai Direktur Eksekutif Nagara Institute, bukan kader," imbuhnya menegaskan.

Ketua DPP Partai Nasdem, Saat Mustopa sebelumnya mengaku tidak paham apa motif Akbar Faizal merilis hasil risetnya itu. Sebab, kata dia, Nasdem tidak mempraktikkan dinasti politik.

"Saya enggak tahu kalau soal itu. Kalau misalnya ada kekecewaan dan sebagainya terhadap partai dan membuat dia berkesimpulan terhadap partai seperti itu, saya tidak paham," kata Saat Mustopa, Selasa lalu (18/2).

Mengenai hal ini, Akbar Faizal menegaskan bahwa pihak yang berasumsi seolah dia menyerang Nasdem dinilai keliru. Karena itu, dia enggan menanggapi hal tersebut.

"Dia menanggapinya yang berbeda, dia menanggapinya secara personal dan saya tidak perlu melayani," pungkasnya.

Beberapa waktu lalu Nagara Institute merilis kajian terbaru. Sebesar 17,22 persen anggota DPR hasil Pileg 2019 terpapar dinasti politik. Atau, sebanyak 99 dari 575 anggota legislatif terpilih memiliki hubungan dengan pejabat publik.

Partai Nasdem ada di urutan perama (33,90 persen). Menyusul Partai Golkar (31,58 persen), PDI Perjuangan (21,18 persen), Partai Gerindra (18,52 persen), Partai Demokrat (18,18 persen), PAN (16,67 persen), PPP (13,28 persen), PKS (8 persen), dan PKB (5,17 persen).

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya