Berita

Ilustrasi/Net

Pertahanan

Analis Konflik Dan Terorisme: Pemerintah Harus Assessment Anak ISIS Eks WNI Jika Mau Dipulangkan

SENIN, 17 FEBRUARI 2020 | 12:20 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Rencana pemerintah untuk memulangkan anak-anak eks warga negara Indonesia (WNI) Kombatan ISIS yang berusia 10 tahun mendapat tanggapan dari analis konflik dan terorisme Alto Luger.

Ia mengamati, rencana pemerintah baru sekedar wacana yang tidak diiringi dengan langkah konkret, salah satunya ialah untuk menyusun mekanisme pemulangan.

Saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Senin (17/2), Alto Luger menyampaikan kekurangan itu, yang spesifiknya mengenai metode assesment yang akan dipakai pemerintah.


"Jadi kita pertama tidak bisa memukul rata anak dibawah 10 tahun itu, dia tidak terpapar atau dia bisa dikatakan tidak radikal," kata Alto melalui sambungan telepon.

Berdasarkan pengalamannya selama 5 tahun di wilayah konflik Irak, Alto Luger menceritakan bahwa kemungkinan anak-anak terlibat aksi terorisme adalah besar. Sebab saat itu, ia sempat mengunjungi salah satu penjara kombatan ISIS, yang didalamnya terdapat tahanan anak-anak.

"Ada anak usia 8 tahun memang sudah masuk tahanan, karena didakwa sebagai turut serta dalam kegiatan teroris. Artinya ada kemungkinan anak-anak itu memang dipakai oleh ISIS," jelas Alto Luger.

"Misalnya dipakai untuk membawa logistik, atau dipakai untuk mencari intelejen, karena anak biasanya tidak dicurigai," sambungnya.

Oleh karena itu, lanjut Alto Luger, pemerintah tidak bisa asal memulangkan anak-anak eks Kombatan ISIS umur 10 tahun. Sebab selain harus dipastikan keterlibatannya, setelah itu pemerintah  juga harus memastikan kesedian mereka untuk dipulangkan ke Indonesia.

"Apakah memang anak itu mau dikembalikan secara paksa? Ataukah dengan persetujuan orangtuanya? Atau kalau misalkan anaknya masih ada orangtua dan Pemerintah mau memaksakan gimana?," tutur Alto Luger.

Alto Luger pun menyampaikan kesimpulannya, bahwa pemerinah harus mengirim tim assesment ke wilayah perkampungan kombatan ISIS di Syria.

"Di assessment dulu kira-kira anak ini dia radikal atau nggak, apakah dia terlibat atau tidak. Sehingga treatment-nya pada saat dia sampai ke Indonesia itu bisa tepat," pungkasnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Catat 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 10:20

Implementasi PP Tunas Jangan Sekadar Formalitas

Minggu, 29 Maret 2026 | 10:13

Gelombang Aksi “No Kings” Meledak di Seluruh AS, Tuntut Trump Lengser

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:25

87 Persen Penyelenggara Negara Sudah Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:22

Kejagung Bongkar Praktik Tambang Ilegal Samin Tan

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:01

Pramono Upayakan Tak Ada PHK di Tengah Wacana Pembatasan Belanja Pegawai

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:46

Pemerintah Wajibkan Platform Digital Patuhi PP Tunas Tanpa Kompromi

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:32

Kemenhaj Optimistis Operasional Haji 2026 Sesuai Rencana

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:10

WFH Jumat Bisa Ciptakan Life Balance dan Tetap Produktif

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:30

Pemprov DKI Dukung Program Presiden soal Hunian Layak Warga Rel

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:15

Selengkapnya