Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

'Kufur Nikmat' Jokowi Hanya Dalih Pemerintah Yang Gagal Naikkan Pertumbuhan Ekonomi

SABTU, 08 FEBRUARI 2020 | 11:12 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan Presiden Joko Widodo yang meminta semua pihak agar bersyukur dan jangan kufur nikmat terhadap pertumbuhan ekonomi yang masih berada di angka 5 persen, dinilai hanya dalil karena tidak mampu meraih capaian lebih tinggi.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedy Kurnia Syah saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (8/2).

"Itu hanya dalih jika pemerintah tidak dapat lebih berupaya lebih tinggi lagi," kata Dedy Kurnia Syah.


Menurutnya, sedianya pemerintah dalam hal ini Presiden tidak perlu mengeluarkan ungkapan dengan nada meredam keinginan masyarakat dengan konsep harus bersyukur atas nikmat Tuhan. Sebab, kondisi ekonomi pada faktanya memang sedang tidak baik.

"Ada tafsir pengakuan jika kondisi ekonomi negara sulit, dan Presiden tidak dapat berdalih lagi seperti terdahulu," tutur pengamat politik dari Universitas Telkom ini.

Lebih lanjut, Dedy Kurnia Syah menilai, Presiden mesti memisahkan konsep bersyukur secara personal dan kondisi ekonomi yang stagnan di angka 5 persen.

"Untuk itu, jawaban paling sederhana adalah mengembalikan pada konsep personal, jangan mengingkari nikmat Tuhan. Tentu itu baik, tetapi secara kapasitas Presiden, itu tidak tepat," pungaksnya.

Presiden Jokowi salah kaprah soal istilah "kufur nikmat". Dia meminta masyarakat bersyukur dan tidak kufur nikmat atas pertumbuhan ekonomi nasional yang masih di atas 5 persen, tepatnya 5,02 persen pada tahun 2019.

Mantan Jurubicara Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Adhie M. Massardi mengatakan, istilah kufur nikmat yang dilontarkan Jokowi keluar dari konteksnya.

Menurutnya, justru kalau kita berbangga dan senang dengan pertumbuhan ekonomi kurang dari 10 persen, itulah sebenar-benarnya kufur nikmat. Karena Tuhan telah memberikan keberlimpahan yang sangat banyak pada bumi Indonesia. Indonesia berlimpah atas sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Dengan keberlimpahan itu seharunya cukup menaikkan pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen.

"Tapi karena kufur nikmat, berkah yang melimpah dari Tuhan itu diberikan kapada bangsa lain," ujar Adhie Massardi kepada redaksi, Jumat kemarin.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya