Berita

Rizal Ramli (kedua kanan) saat diskusi di Gedung Joang/RMOL

Politik

Rizal Ramli: BPJS Amburadul Karena SBY Ogah-ogahan Di Awal Pendirian

JUMAT, 07 FEBRUARI 2020 | 17:21 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan amburadul lantaran pendirian lembaga ini tidak serius di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). UU yang dibuat SBY dinilai seperti setengah hati memberi jaminan kesehatan jaminan pada rakyat.

Begitu kata ekonom senior, DR. Rizal Ramli saat diskusi dengan tema "BPJS Bagi Rakyat, Manfaat atau Mudharat" di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/2).

Menurutnya, SBY seperti terpaksa mendirikan BPJS setelah banyak desakan dari masyarakat dan para buruh yang meminta jaminan kesehatan dan kerja.


"Dari awal pemerintah SBY memang nyari alasan, ogah-ogahan. Kalau enggak ditekan sama Said Iqbal (Presiden KSPI) dan kawan-kawan lain ratusan ribu (buruh), mereka nggak bakal setuju. Terserahlah rakyat mau sehat atau tidak," ujar Rizal Ramli.

Singkatnya, Menko Perekonomian era Presiden Joko Widodo itu ingin mengatakan bahwa jaminan sosial di Indonesia amburadul karena tidak dipersiapkan secara matang. BPJS itu beda dengan negara lain yang benar-benar berhasil memberikan jaminan untuk rakyatnya.

"Jadi lihat sisi bagusnya dulu di negara lain, bahwa di Indonesia kacau. Yang ngadainnya kacau. Di negara orang kok bisa? Kenapa di kita nggak bisa?" tegasnya.

Mantan Menko Kemaritiman itu semakin terheran-heran lantaran adanya kepentingan yang masuk di BPJS. Hal tersebut dapat dilihat dari pemisahan antara BPJS Kesehatan dengan BPJS Ketenagakerjaan.

Padahal, kata Rizal Ramli, BPJS Ketenagakerjaan mengalami keuntungan yang luar biasa dibanding BPJS Kesehatan yang merugi banyak.

"Yang ini yang harusnya digabung dengan kesehatan, dia pisahkan. Kesehatan pada dasarnya memang merugi, itu juga saya aneh kenapa dipisahkan," herannya.

Turut hadir dalam diskusi ini, anggota DPR RI Fraksi PKS Ansory Siregar, praktisi kesehatan PADI Medika Indonesia dr. Andry Pri Handono, dan perwakilan KSPI.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya