Berita

Presiden Jokowi saat meninjau Pluit/Istimewa

Politik

Klaim Tak Punya Beban, Jokowi Justru Seperti Pemimpin Yang Lihai Selamatkan Muka Belaka

SELASA, 04 FEBRUARI 2020 | 04:37 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Sejauh ini tidak ada gebrakan berarti yang dilakukan Joko Widodo dalam periode keduanya sebagai presiden bersama Wapres Maruf Amin.

"Sesaat terpilih untuk periode kedua, Presiden Jokowi mengatakan 'tidak lagi punya beban' untuk melakukan banyak terobosan. Faktanya, justru sejumlah kemunduran terlihat," kata Direktur Paramadina Public Policy Institute, Ahmad Khoirul Umam kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (3/2).

Alih-alih mewujudkan janjinya tersebut, pemerintahan Jokowi justru mengalami kemunduran demokrasi, pelemahan mesin antikorupsi, hingga kemunduran penegakan hukum.


Di aspek demokrasi, jelasnya, polarisasi politik akibat eksploitasi politik identitas masih terus terjadi. Kekuatan-kekuatan politik yang mengklaim nasionalis dan kelompok dengan identitas politik Islam, masih terus saling menyerang dan melemahkan citra masing-masing.

"Saling serang antara pemerintah pusat dan DKI Jakarta merupakan fakta politik yang tidak terbantahkan. Sayangnya, presiden seolah cenderung diam dan mengambil posisi aman, tidak mencoba lebih jauh untuk menetralisasi keadaan," tegasnya.

"Presiden Jokowi yang dulu mengklaim diri sebagai 'risk taker', ternyata tak ubahnya pemimpin yang lihai menyelamatkan muka belaka atau face saving strategy," sambung Ahmad Khoirul.

Di aspek antikorupsi, presiden dinilai mensponsori pelemahan KPK dengan menandatangani amandemen UU KPK. Hasil perubahan itu pun fatal.

"Terbukti dengan adanya kasus korupsi Komisioner KPU yang melibatkan Harun Masiku dari PDIP dan diduga mengarah Sekjen PDIP. Penggeledahan tertunda, proses investigasi dihambat, penangkapan Harun Masiku yang ternyata sudah berada di Indonesia seolah menjadi angin lalu," lanjutnya.

Kemudian di sektor penegakan hukum. Presiden Jokowi dinilai harus lebih tegas membuka skandal Jiwasraya, ASABRI, dan BUMN lain yang dikabarkan mengalami pelemahan signifikan dalam segi keuangan.

Jika terdapat potensi korupsi, seharusnya penegak hukum harus bergerak lebih cepat.

"Kasus ini, masyarakat mengapresiasi Kejaksaan, tapi lebih percaya KPK. Sayangnya, KPK dipaksa minum obat tidur oleh para pemegang kekuasaan," tandasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya