Berita

Joko Widodo/Net

Politik

Tanah Masih Dikuasai Elite, Walhi: 100 Hari Pemerintahan Jokowi Ambyar!

SENIN, 03 FEBRUARI 2020 | 18:21 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Praktik penguasaan tanah oleh para tuan tanah menjadi momok buruk dalam catatan kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo selama 100 hari pertama diperiode kedua ini. Hal ini menjadi kritik aktivis Lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Khalisa Khalid.

Khalisa mengatakan, 100 hari kerja pemerintah tidak menunjukkan perubahan yang signifikan di sektor pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), terutama persoalan pertanian.

Misalnya saja catatan Walhi soal penguasaan lahan pertanian Kelapa Sawit di Jawa. Dimana, kepemilikan lahan dikuasai oleh 25 grup perusahaan kelapa sawit yang menguasai lahan 5,1 juta hektar, atau hampir setengah luasan pulau Jawa yang mencapai 128.297 kilometer persegi.


"Sebagian besar tanah di Jawa sudah tidak dikuasai oleh petani. Sebagian besar sekarang di sana masyarakatnya buruh tani," kata Khalisa saat ditemui Kantor Berita Politik RMOL, di kantornya, Jalan Tegal Parang Utara, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Senin (3/1).

Penguasaan itu, lanjut Khalisa, juga berdampak kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum berubah signifikan.  Sebab, reforma agraria yang digalakkan Jokowi masih tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah terkait pengelolaan lahan.

"Dari pendekatan growth (pertumbuhan ekonomi) yang diusung di Indonesia sejak orde baru faktanya gagal. Gagalnya bisa dilihat dari indikator ketimpangan penguasaan sumber daya alam kita hanya oleh segelintir elit dan Taipan yang saya sebutkan tadi," ucap Khalisa.

Selain itu, lahan Perhutani yang seluasa 2 juta hektar di Jawa juga banyak bermasalah dalam hal tata kelolanya.
"Seperti tambang di Jawa Barat misalnya. Jadi mau ngomong apa kita atas nama pertumbuhan ekonomi tadi tapi faktanya melahirkan ketimpangan dalam konteks ekonomi. Dan kedua melahirkan kerusakan lingkungan," tutur Khalisa.

"Jadi 100 hari (pemerintahan Jokowi) ambyar (tidak terkonsentrasi lagi) dengan realitas politik hari ini. Bahkan sejak awal Jokowi bilang genjot investasi," sambungnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya