Berita

Foto: Net

Publika

Genteng Kaca

MINGGU, 02 FEBRUARI 2020 | 21:03 WIB | OLEH: JOKO INTARTO

GARA-GARA Tuberculosis, saya jadi ingat mengapa Mbah Kakung memasang genteng kaca di rumahnya. Rupanya langkah kecil ini berdampak besar.

Sejak kecil saya tinggal di rumah Mbah Kakung. Di Desa Kranggan Harjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Begitu pun mbakyu dan adik-adik saya.

Kami bersekolah mulai Taman Kanak Kanak hingga seolah dasar di desa. Setelah masuk sekolah menengah pertama barulah pindah ke kota Purwodadi. Tinggal bersama orang tua. Begitu pun paklik dan bulik saya.


Mbah Kung tinggal di rumah besar. Empat rumah joglo yang disatukan. Masing-masing rumah joglo punya fungsi berbeda: Ruang tamu, ruang keluarga, ruang dapur dan kandang.

Semua joglo itu beratap genteng tembikar produksi lokal. Pabrik genteng mudah ditemukan di sepanjang sungai yang membelah wilayah Kabupaten Grobogan.

Saya masih duduk di kelas dua sekolah dasar ketika Mbah Kakung mulai memasang genteng kaca di rumahnya. Setiap sisi joglo dipasangi dua. Tepat di atas kamar dipasang lagi satu genteng kaca.

Saya sempat bertanya kepada Mbah Kung. Mengapa genteng kaca dipasang di semua ruangan. ‘’Agar tidak ada yang kena TBC,’’ jawab Mbah Kung.

Saat itu saya tidak paham TBC. Yang jelas sejak dipasangi genteng kaca, rumah Mbah Kung jadi terang benderang dari pagi hingga sore.

Saya pun punya mainan baru: ‘’kotak’’ cahaya yang menerobos dari genteng kaca itu. Pagi hari ‘’kotaknya’’ di barat. Sore hari ‘’kotaknya’’ di timur.

Penjelasan Mbah Kung soal genteng kaca untuk mencegah TBC itu tiba-tiba terlintas lagi pagi ini. Gara-garanya pun sepele.

Sudah dua hari ini saya mencari informasi tentang faktor-faktor lingkungan yang menjadi pemicu Tuberculosis. Saya harus menjawab pertanyaan teman-teman aktivitas TB Care Aisyiyah: ‘’Gagasan apa yang bisa digunakan untuk mengedukasi masyarakat terhadap penyakit TB?’’

Penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis itu punya singkatan resmi: TB. Tapi masyarakat punya singkatan lain: TBC. TBC adalah fase lanjutan karena TB yang tidak segera diobati.

Indonesia merupakan ‘’juara tiga dunia’’ dalam jumlah penderita TB setelah Tiongkok dan India. Karena banyaknya kasus infeksi, TB menjadi ‘’pembunuh’’ utama di Indonesia.

Sebanyak 582.000 kasus penderita baru TB ditemukan di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 41 orang per 100.000 penderita. Yang mengejutkan, sebanyak 75% pengidap virus TB adalah kelompok usia produktif, antara 15 hingga 49 tahun.

Upaya untuk menurunkan jumlah penderita TB ini tidak mudah karena TB cepat menular. Penularan TB dari satu orang ke orang lain terjadi melalui percikan dahak. Karena itu, TB umumnya menulari orang-orang yang berinteraksi secara dekat dan sering dengan penderita.

Misalnya, penderita TB dengan anggota keluarganya. Atau, penderita TB dengan teman satu kamar kosnya.

Keluarga Anda ada terkena TB? Jangan cemas. TB adalah penyakit yang bisa disembuhkan.

Syarat sembuhnya ada empat:

1. Harus mau memeriksakan diri ke klinik atau puskesmas bila menderita batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh.

2. Harus disiplin minum obat. Tidak boleh lupa satu kali pun.

3. Harus sabar karena penyembuhannya dengan cara minum obat yang membutuhkan waktu antara 6 hingga 24 bulan.

4. Jangan lupa berdoa kepada Tuhan Sang Maha Penyembuh.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Begitu kata pepatah.

Berdasarkan artikel-artikel di internet, Mycobacterium Tuberculosis ternyata hanya bisa hidup lama di ruangan yang sirkulasi udaranya buruk, lembab, dan kurang terpapar sinar matahari. Bila sirkulasi udaranya baik dan paparan sinar mataharinya cukup, bakteri Mycobactrium Tuberculosis hanya bisa bertahan hidup paling lama 2 jam saja.

Maka untuk mencegah penularan TB di lingkungan rumah Anda, lakukan 4 hal sederhana ini:

1. Pasang genteng kaca pada setiap kamar atau ruangan rumah Anda.

2. Pasang ventilasi udara dan jendela yang cukup.

3. Biasakan membuka jendela pada pagi hingga sore hari.

4. Jemur kasur, bantal serta guling Anda seminggu sekali.

Terima kasih Mbah Kung atas ilmunya.

Penulis adalah praktisi webinar. 

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya