Berita

Mahasiswa menunggu evakuasi/Net

Politik

Pengamat: Penolakan Masyarakat Natuna Dapat Selesai Dengan Komunikasi Terbuka

SABTU, 01 FEBRUARI 2020 | 21:53 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kebijakan pemerintah mengenai proses karantina atau observasi kesehatan WNI dari Wuhan di Natuna, Kepulauan Riau telah menjadi keputusan.

Ibarat nasi telah menjadi bubur, apapun konsekuensinya, pemerintah bakal tetap menggelar karantina itu meski warga setempat menolaknya.

Penolakan warga bukan tanpa sebab, masyarakat di Natuna masih dihantui kekhawatiran karena takut terjangkit wabah virus corona yang menjadi alasan mengapa WNI tersebut dievakuasi.


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin pun menilai kalau pemerintah harus membuka informasi seterang-terangnya mengenai proses karantina ini.

"Ini kan Panglima TNI dianggap tanda kutip berbohong kepada masayarakat, karena dikatakan jarak Rumah Sakit TNI AU jauh dari pemukiman masyarakat," ujar Ujang saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (1/2).

"Tapi dari anggota DPRD tadi mengatakan jaraknya tidak jauh dari penduduk. Artinya ini harus di komunikasikan dengan baik ke masyarakat," katanya menambahkan.

Menurut Ujang, komikasi yang intensif mesti segera dilakukan oleh pemerintah dalam kurun waktu 24 jam ke depan. Pasalnya, cuma cara itu yang bisa dilakukan pemerintah untuk meredam aksi penolakan masyarakat Natuna.

"Mereka kalau didekati, diajak bicara juga tidak akan marah. Mereka juga akan terima. Jadi kegiatan darurat melakukan karantina itu juga harus jalan karena waktunya mendesak," jelasnya.

Namun, saat ditanya mengenai kemungkinan evakuasi masyarakat Natuna dilakukan, pengamat politik dati Universitas Al-Azhar Indonesia itu mengatakan tidak menutup kemungkinan tersebut dilakukan.

"Saya punya keyakinan masyarakat tidak akan mau kalau dilokalisir. Misalkan menghindar dulu dari lokasi. Jadi cukup didekati sejak dini, dan dijelaskan secara koperhensif baik buruknya penanganan karantina tersebut oleh Menkes," pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya