Berita

Prabowo Subianto/Net

Publika

Motif Nyerang Prabowo

RABU, 08 JANUARI 2020 | 07:53 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PASCA MRT Summit, tidak ada lagi 01 & 02. Tutup buku. Anatomi politik berubah. Semuanya starts from 00. Restrukturisasi "musuh-sekutu" harus dilakukan.

Mas Jokowi dan Pak Prabowo mengikat aliansi. Paten..!! Partai Demokrat dan PAN di luar kabinet. Nasdem mencoba rangkul Anies Baswedan. PKS berupaya menjadi proxy Amerika.

Manuver PKS mendekati Amerika keliatan di issue-hoax Uighur. Antek-antek lama CIA bisa kehilangan job. Jadi pengangguran.


PKS' attack on Menhan Prabowo di masalah issue Natuna merupakan bahasa cryptic implisit. Ada sebuah hidden agenda di sana. Demi menyenangkan "Tuan Baru-nya", PKS ngga ragu mendenigrasi dan mengorbankan Pak Prabowo.

Avonturisme PKS ini akan dibayar mahal. Amerika tidak bodoh. Ngga bisa ditipu. Kasus Jenderal Soleimani & ISIS contohnya. One day, PKS akan dibuat gigit jari.

Terjadi pembodohan publik bersifat massal. Problem kecil dan biasa di perairan ZEE dimaksimalkan. Kedok nasionalisme dimain-mainkan. Menhan Prabowo & Jenderal Luhut distigma lunak, antek China, pengecut dan predikat pejoratif lainnya.

Future war dikuatirkan ada di Pasific. Indikatornya seperti yang dikatakan Leon Edward Panetta, "60 persen kekuatan militer AS akan pindah ke kawasan Asia Pasifik mulai 2012 hingga 2020." Salah satu hot zone itu di South China Sea.

PKS cerdik melihat kebutuhan Amerika mengisolasi citra regional China.

Plot Amerika adalah sebuah perang mencegah "persatuan negara-negara merah dan the axis of evils”. Iran & North Korea termasuk targetnya.

Publik Democrat, Human right & pacifist di Amerika tidak suka perang. Trump kesulitan menggerakan US personels dalam perang yang dia inisiasi. Makanya Amerika lebih suka pinjam tangan orang lain yang bisa digunakan sebagai pion & budak perang.

Indonesia jadi salah satu tangan potensial. TNI dan patriot Indonesia bisa dijadikan mesin perang demi kepentingan Amerika.

Padahal di tahun 2015, Menhan Ryamizard Ryacudu menyatakan “Jika Indonesia berperang, paling hanya mampu bertahan dalam 3 hari”.

Statement ini disounding kembali oleh Jenderal Gatot Nurmantyo di tahun 2018. TNI yang berkekuatan 40-an Jet Tempur mau dikipas melawan negara nuclear power & pemegang veto yang punya 2000 fighter jets super canggih seperti China.

American hawkis tidak peduli. Of course. Jumlah korban TNI dan patriot Indonesia hanya statistik.

Target minimal Serangan PKS terhadap Menhan Prabowo adalah proyeksi Pilpres 2024. Kaum radikals sedang nge-gass-poll figure Anies Baswedan. Belum tentu dia suka diadu-adu dengan Presiden Jokowi. PKS latah dengan ngedarin Stiker "ABAH 2024" Akronim dari Anies Baswedan & Ahmad Herawan.

Kabinet Kerja Jokowi baru konsolidasi. Pergantian pejabat dilakukan. Belum mulai kerja. Tapi kaum radikals sudah ngebet berkuasa tahun 2024.

Salah satu figure potensial di Pilpres 2024 adalah Prabowo Subianto-Puan Maharani sebagai representatif dari Kubu NKRI Merah-Putih. Lawannya usung Theocratic Statism.

Padahal tahun 2024 masih lama. Kerja dulu-lah. Pak Prabowo ngga punya ambisi pilpres. Dia patriot. Abdi negara. Tak ragu menurunkan ego demi bangsa.

Semua serangan terhadap Menhan Prabowo, Menteri KKP dan Presiden Jokowi harus dilihat dari perspektif ini.

Penulis adalah anggota Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya