Berita

Bendera Iran/Net

Muhammad Najib

Kemenangan Awal Iran Atas Amerika

SELASA, 07 JANUARI 2020 | 17:44 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

KEMATIAN Komandan Brigade Al Quds Iran Mayor Gendral Qassem Soleimani yang dibunuh oleh tentara Amerika dengan menggunakan drone, saat baru saja meninggalkan bandara Bagdad dalam iring-iringan mobil, bersama rekannya Komandan lapangan milisia Syiah Irak Hashed Al Shaabi, Jamal Jaafar Ibrahimi yang juga dikenal dengan panggilan Al Mohandis.

Kematian dua tokoh ini bersama sejumlah pengawalnya, menimbulkan kemarahan masyarakat khususnya warga Irak dan Iran. Dari Teheran ancaman pembalasan langsung datang dari orang nomor satu sekaligus pemimpin spiritual tertinggi Iran Ayatollah Ali Khameni.

Sementara dari Bagdad, Perdana Mentri Irak Adil Abdul Hadi menyuarakan kecaman keras atas tindakan Amerika yang dianggapnya telah menginjak-injak martabat bangsa Irak, dan menuding tindakan Amerika membunuh tamu negaranya sebagai "agresi".


Ia kemudian meminta Parlemen Irak untuk segera bersidang, dan mengambil keputusan pengusiran seluruh tentara asing dari negrinya. Sidang Parlemen segera diadakan, dan keputusan sesuai permintaan Perdana Mentri segera diambil.

Gedung Putih tampaknya tidak menduga responsnya sebesar dan secepat ini, Washington tidak mampu memberikan penjelasan meyakinkan atas keputusan gegabahnya itu. Tidak ada penjelasan resmi dari otoritas di Washington.

Hanya cicitan Donald Trump melalui Twitter yang isinya mengakui bahwa tentaranya yang bertanggung-jawab atas serangan Jumat lalu, kemudian menuduh Soleimani dan Iran sebagai dalang kekacauan di Timur Tengah, sekaligus sebagai sumber ancaman tentaranya.

Sementara Kementerian Luar Negeri di Iran membuat jumpa pers, mengundang wartawan baik dari dalam maupun luar negri, menjawab semua pertanyaan, dan menjelaskan sikap dan posisi negaranya selama berjam-jam yang disiarkan langsung oleh TV Aljazeera.

Menghadapi tekanan politik international seperti ini, secara mengejutkan militer Amerika Serikat (AS) mengirimkan surat kepada otoritas Irak, tertanggal Senin (6/1) yang ditujukan kepada Operasi Gabungan di Kementerian Pertahanan Irak.

Dalam surat tersebut, militer AS menyatakan akan menarik diri dari Irak, dan akan memulai penarikan pasukannya dalam beberapa hari ke depan. Surat tersebut ditandatangani oleh Brigadir Jenderal William H. Seely dari Korps Marinir AS yang menjabat sebagai Komandan Satuan Tugas koalisi militer pimpinan AS di Irak.

Sehari kemudian Selasa (7/1), Menetri Pertahanan Mark Esper kepada sejumlah media di Pentagon membantah berita rencana penarikan pasukannya dari Irak. Genderal Mark Milley yang menjabat Komandan Staff Gabungan menyalahkan Genderal McKenzie yang menjabat sebagai Komandan Pusat Komando Amerika, atas tersebarnya berita tersebut.

Tampaknya muncul perbedaan pendapat diantara para pejabat militer Amerika, disamping perbedaan antara Presiden Amerika Donald Trump dengan sejumlah pejabat militer.

Hal ini terlihat dari sikap Menteri Pertahanan Mark Esper yang menentang ancaman Presiden Amerika terhadap 52 daftar target yang akan diserang, bila Iran berani melakukan pembalasan. Esper menyatakan dia akan menghormati hukum international, khususnya terkait situs-situs penting yang dilindungi UNESCO.

Jika dilihat dari kemampuan militer jelas Amerika berada jauh di atas Iran, akan tetapi dalam masalah politik Amerika tampaknya kedodoran. Rencana hengkangnya tentara Amerika dari Irak dan perbedaan pendapat antara para pejabat di Washington, menunjukkan kekalahan politik pertama Amerika dari Iran. Padahal Iran belum melakukan langkah apapun pasca kematian Soleimani.

Kini kita menantikan apa yang selanjutnya akan dilakukan Iran dan bagaimana reaksi Amerika.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya