Berita

Anggota Komisi I DPR, Syaiful Tamliha/Net

Politik

Minim Anggaran, Komisi I Minta Bakti Kominfo Dievaluasi

JUMAT, 27 DESEMBER 2019 | 22:43 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

. Komisi I DPR RI meminta Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kominfo dievaluasi. Alasannya, Bakti tak memiliki perencanaan dalam mengelola anggaran.

Bakti adalah pelaksana pembangunan Palapa Ring melalui tiga konsorsium. Namun, hanya backbone saja yang sudah selesai dan masih dibutuhkan pembangunan jaringan backhaul atau penghubung ke kecamatan dan kelurahan melalui akses berupa ribuan BTS-BTS dan kabel optik lastmile ke rumah penduduk.

Anggota Komisi I DPR RI, Syaiful Tamliha menyebut jaringan backhaul dan akses penghubung ratusan kecamatan dan ribuan kelurahan ini sangat mahal. Sedangkan kemampuan anggaran Bakti itu saat ini hanya cukup untuk membayar biaya rutin dari layanan yang sudah ada.


“Terlalu prematur jika Bakti tidak punya duit untuk membangun jaringan backbone dan akses pasca menyelesaikan backbone Palapa Ring," ujar Syaiful kepada wartawan, Jumat (27/12).

Jika itu dipaksakan, kata Syaiful, Bakti tidak memiliki perencanaan yang matang dan profesional dalam mengelola anggaran tersebut.

Setiap tahun, sambung politisi PPP ini, penerimaan negara bukan pajak (PNPB) yang masuk dari penyelenggara telekomunikasi triliunan rupiah. Artinya, tata kelola anggaran bakti perlu diperbaiki agar efektif dan efisien.

“Meskipun Kemenkominfo mendapat predikat WTP dari BPK untuk TA 2019, tapi perencanaan yang tidak baik dapat dari LHP BPK ternyata banyak juga penyimpangan yang perlu dikoreksi,” katanya.

Dalam UU 36/1999 tentang Telekomunikasi dinyatakan wilayah USO adalah wilayah yang secara ekonomis kurang menguntungkan. Maka itu, dibangun secara gotong royong dengan iuran dana 1,25 persen dari gross revenue semua penyelenggara telekomunikasi.

Bakti dipercaya sebagai pengelola dana USO dari sektor telekomunikasi. Dalam Nota Keuangan Tahun Anggaran 2019 yang dirilis oleh Kementerian Keuangan, selama tahun 2018, BAKTI membukukan pendapatan sebesar Rp2,989 triliun. Pada 2019, BAKTI dibebani meraih pendapatan sebesar Rp3,16 triliun.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya