Berita

Negara dengan tingkat populasi yang menurun, akan berpengaruh kepada perekonomian/Net

Bisnis

Tiga Negara Ini Kebanyakan Lajang, Bisa Terancam Populasi Dan Ekonominya

SENIN, 16 DESEMBER 2019 | 06:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Swedia tercatat sebagai negara dengan angka jomblo tertinggi di Eropa. Faktor budaya  mandiri  dan tidak suka bergaul adalah hal yang mendasari mengapa mereka lebih suka sendirian daripada menikah.

Mereka lebih suka tinggal di apartemen kecil, tidak bersosialisasi dengan tetangga, dan sibuk bekerja.

Penelitian tahun 2017 oleh Badan Statistik Swedia menemukan bahwa lebih dari 55% penduduk berusia 16-24 tahun tidak bersosialisasi dengan keluarga mereka sendiri.


Budaya mandiri yang mengakar sejak muda di antara orang Swedia juga membuat mereka tak suka ketergantungan. Laki-laki dan perempuan punya hak yang sama dalam pekerjaan, bahkan perempuan bisa hidup menafkahi anak dengan biaya dari negara saja.

Selain Swedia, di Asia ada Jepang dan Korea Selatan yang penduduknya juga lebih suka menjomblo darpada menikah.

Jepang terkenal dengan budaya bekerja yang tinggi, sehingga kaum mudanya hampir tidak ada waktu untuk memikirkan sebuah pernikahan.

"Tingkat pendapatan yang lebih rendah dan peningkatan jumlah pekerjaan yang sangat tidak stabil, dengan rasa takut dipecat kapan saja, membuat orang tidak memikirkan tentang menikah dan memiliki keluarga," ujar Sosiolog Jepang Shigeki Matsuda.

Korea Selatan lebih kepada masalah social.  Di negeri K-Pop bahkan sampai ada kelompok feminis radikal nasional bernama '4B' atau 'Four Nos'. Mereka mengagungkan sejumlah norma yakni 'no dating, no sex, no marriage, and no child-rearing' atau tidak berkencan, tidak menikah, dan tidak mengasuh anak.

“Akibat rendahnya angka kelahiran, komposisi penduduk usia muda dan tua pun menjadi tidak seimbang. Hal ini telah membuat Jepang banyak 'mengimpor' tenaga kerja dari luar negeri. Seperti halnya yang terjadi di sektor manufaktur,” ujar Matsuda.

Ini yang dikhawatirkan, budaya Jepang dan Korea Selatan di atas tersebut dapat mengganggu ekonomi kedua negara ini ke depannya.

Korea Selatan sampai terancam menghadapi bencana demografis yang membumbung tinggi akibat fenomena ini.

Pemerintah memperkirakan populasi Korsel yang saat ini di angka 55 juta, akan turun menjadi 39 juta pada tahun 2067. Pada tahun itu, setengah dari populasi negara tersebut akan berusia 62 atau lebih.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya