Berita

Prof. Otto Scharmer/Net

Bisnis

Pakar Dari Massachusetts Terkesan Dengan Strategi Pertumbuhan Ekonomi Menko Luhut

KAMIS, 12 DESEMBER 2019 | 10:11 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mendapat pujian dari pakar ekonomi dan ahli manajemen dari Massachusetts Institute of Technical, Boston, AS Prof. Otto Scharmer saat acara pertemuan dengan menteri dan pejabat non pemerintah di bawah Kemaritiman, di Kantor Lemhanas, Jakarta Pusat, Rabu (11/12).

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Otto Scharmer sangat terkesan dengan strategi penambahan nilai yang ditawarkan Menko Luhut.

"Saya sangat terkesan dengan strategi penambahan nilai yang tadi disampaikan Pak Luhut, dan Indonesia harus mempertahankan proses penambahan nilai untuk kepentingan Indonesia," ucap Otto.


Dia menilai Indonesia memiliki potensi sumber daya alam sangat besar, yang apabila dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh-sungguh akan menjadi bargaining bagi Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai negara super power.

"Apalagi komoditas rare earth yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan teknologi seluruh dunia, dan dipasangkan dengan Indonesia yang memiliki cadangan carbon yang luar biasa besar, dua hal itu seharusnya bisa menjadi titik ungkit atau bargaining power dari Indonesia. Dan strategi ini harus dipakai dalam dua dekade ke depan untuk pertumbuhan dua dekade terakhir yang sudah dilakukan," tuturnya.

Luhut menyampaikan pertemuan ini penting untuk memperlancar komunikasi dan juga sekaligus menambah wawasan, karena menurutnya banyak hal yang bisa didapat dari diskusi ringan dan interaksi yang terjalin sepanjang pertemuan tersebut.

"Pertemuan ini super penting, karena tadi Prof. Otto secara khusus menyampaikan bahwa Indonesia punya kelebihan yang luar biasa," paparnya.

Pada program Presiden Joko Widodo yakni transformasi ekonomi berbasis komuditas menjadi penambahan nilai bagi Indonesia dan yang kedua adalah major super power carbon credit.

"Karena kita punya 75-80 persen carbon credit di Indonesia yang berasal dari lahan gambut, mangrove dan lainnya, dan ini punya kontribusi sangat besar kepada dunia, dan bagaimana kita sekarang mengkompakan diri kita untuk bersama-sama mengatasi masalah ini atau sekaligus mempromosikan bahwa Indonesia adalah major power dalam carbon credit, tutupnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya