Berita

Agnez Mo/Net

Publika

Akhir Dari Kontroversi

KAMIS, 28 NOVEMBER 2019 | 16:14 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

HARI ketiga, polemik Agnez Mo melandai. Netizen gerah. Ogah memperpanjang kontroversi. Karena ada elemen rasis mengarahkan polemik menjadi hatze Anti-Tionghoa.

Emmy Hafidz mengkapitalisasi non-english speaking nation, triger emosi menjadi kegaduhan extra massive.

In a nutshell, Agnez Mo menyatakan (+/-) sekalipun non-pri dan beragama minoritas Kristen, berbeda dengan mayoritas pribumi, tapi dia lahir di Indonesia dan diterima dengan baik oleh mayoritas muslim.


Setelah kalah di debat Letterlijk, haters seperti Hong-gie Yap mempersoalkan intonasi, gesture, facial expression dan tarikan napas. Baginya, Agnez Mo ingin mengatakan bahwa dia bukan bagian dari Indonesia.

Oh my god-dragon...!! That's halusinasi. Makanya; Jangan ngisep Lem Aibon sambil nonton potongan klip talkshow itu.

Agnez Mo hebat. Dia tutup hot issue Komisaris Ahok, BPJS, Reuni 212 dan Sukmawati.

Syahganda Nainggolan, pentolan aktivis generasi pasca Hariman Siregar, menyatakan "polemik Agnez Mo menarik dibahas".

Dia bawa diskursus Agnez Mo ke level lebih tinggi. Ngga recehan seperti Emmy Hafidz dan Hong-gie Yap.

Pembahasan jadi rumit. Syahganda Nainggolan angkat terminologi ethnik, tribalism, pribumi vs non-pri, bangsa, warga-negara dan konsensus bernegara.

Baginya, "Bangsa" itu beda dengan "Citizenship". Bangsa berkaitan dengan darah dan ethnisitas.

Thus yang dimaksud sebagai "Bangsa Indonesia" adalah pribumi. Golongan asing seperti Tionghoa, India dan Eropa bisa menjadi WNI. Tapi tidak pas disebut "Bangsa Indonesia".

Subjektifisme Syahganda Nainggolan terhadap Anies Baswedan membuatnya ragu mereposisi Golongan Arab.

Faktor agama memudahkan Golongan Arab diterima menjadi bagian dari "Bangsa Indonesia".

Syahdan, Agnez Mo ternyata mengadopsi pemahaman Syahganda Nainggolan pada saat dia menyebut "Indonesian blood".

Tidak ada yang salah dari paham ini. Formasi identitas Agnez Mo memperlihatkan "a sense of uniqueness from others" sekaligus "a sense of affiliation" kepada Indonesia.

Sebuah "Bangsa", or a nation, bagi Benedict Anderson adalah "an imagined political community".

Sebuah "socially constructed community" yang dibayangkan oleh mereka yang merasa bagian dari kelompok.

Tidak ada definisi tunggal dan general consensus nor global agreement tentang "bangsa". Amerika satu-satunya negara modern. Semua bangsa ada di situ menjadi "Orang Amerika".

Di Jepang lain lagi. Hanya "Darah Jepang" yang dianggap sebagai "Orang Jepang". Mereka bahkan anti dengan Golongan "Hāfu"; separoh Jepang, anak-anak hasil mixed marriage.

Indonesia lebih rilex. Ada proses yang disebut William Swann sebagai "Identity negotiation" dan proses ini ternyata belum selesai.

Sebuah proses dalam rangka mencapai agreement mengenai "who is who" bangsa Indonesia itu.

Yang membuat Indonesia itu unique amongst the nations adalah faktor bahasa.

Di Singapore dan Malaysia, segregasi ethnis dibedakan oleh faktor genetik, culture, agama dan bahasa.

Ada "lingua franca" di Indonesia yang ternyata sanggup menerobos boundary segregasi rasial.

Karena suka atau tidak, secara alamiah, Tionghoa adalah bagian dari Indonesia maka dia menjadi lain sendiri.

Tionghoa Indonesia sulit menyatu dengan the other Overseas Chinese dan Zhongguoren karena pada umumnya mereka tidak lagi berbahasa Mandarin dan varian dialeknya.

Global Chinese menganggap Tionghoa-Indonesia sebagai "The other Chinese". Secara culture, mereka Lebih "Indonesia" daripada Chinese.

Di situ sedihnya jadi Tionghoa Indonesia. Dia nggak dianggep "Bangsa Indonesia" sekaligus nggak juga dianggap sebagai "Chinese" on global level.

Penulis adalah anggota Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak).

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya