Berita

Sri Mulyani

Politik

Rencana Sri Mulyani Bisa Buat Indonesia Terpapar Liberalisme Radikal

KAMIS, 28 NOVEMBER 2019 | 12:36 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Rencana Kementerian Keuangan untuk menghapuskan pajak deviden menunjukkan bahwa pemerintah sudah terpapar liberalisme radikal.

Begitu tegas pengamat ekonomi dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Gede Sandra menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang mengatakan sejumlah insentif pajak yang akan dimasukkan dalam RUU Omnibus Law perihal perpajakan. Insentif pajak tersebut termasuk dalam hal perpajakan di pasar modal.

Adapun salah satu insentif yang menjadi perhatian investor adalah insentif yang diberikan bagi investor pasar modal, khususnya pajak dividen yang diperoleh investor dari laba bersih emiten, baik bagi wajib pajak (WP) orang pribadi maupun WP badan.


Sri Mulyani juga berencana membuat penurunan tarif atau pembebasan tarif PPh dividen dalam negeri, dalam hal ini dividen yang diterima wajib pajak badan maupun wajib pajak perorangan akan dibebaskan.

"Di negara yang dikenal sangat liberal seperti Amerika Serikat saja, pajak deviden rata-rata sebesar 28 persen. Negara-negara liberal di OECD juga pajak deviden rata-rata 24 persen.” jelas Gede kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (28/11).

Menurutnya, dengan menerapkan pajak deviden sebesar 0 persen, Indonesia sudah sah menjadi negara penganut liberalisme yang radikal atau dalam bahasa lainnya, ultraliberal.

Kebijakan ini akan memanjakan kelompok menengah atas yang bermain pasar saham. Sekalipun mereka tidak pernah menyimpan kekayaannya di dalam negeri.

Sementara nasib UKM yang masih berjuang bertahan dari himpitan ekonomi, kata Gede, terus dipajaki bahkan dari omsetnya yang tidak seberapa.

Menurutnya, kebijakan penghapusan pajak deviden di Indonesia harus dilawan karena akan semakin mempertajam ketimpangan pendapatan di kalangan masyarakat. Kebijakan ini juga akan semakin menurunkan penerimaan pajak yang diperlukan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.

"Percuma saja kita teriak-teriak pidato tentang Keadilan Sosial Pancasila di mana-mana, bila ternyata kebijakan pemerintahan sendiri sudah terpapar ideologi liberal yang sangat radikal,” tutup Gede Sandra.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya