Berita

Said Didu/Net

Politik

Hasil Sidak Said Didu, Kebun Angin Jokowi Malu Berputar

KAMIS, 28 NOVEMBER 2019 | 08:20 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu melakukan sidak ke Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berkapasitas 75 Megawatt (MW) yang berada di Kecamatan Watangpulu, Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Sebagaimana video yang diunggah di akun Twitter pribadi, Rabu (27/11), Said Didu tampak berada persis di sebuah bukit yang berlatar kincir-kincir angin raksasa.

Dengan mengenakan kaos bertulis “Manusia Merdeka”, mantan Stafsus Menteri ESDM itu mengajak untuk mengamati perputaran baling-baling kincir di proyek yang disebut dengan "kebun angin" tersebut. Hasilnya, kincir seperti kompak malu berputar.


“Karena memang tidak ada angin. Angin di sini angin-anginan,” kata Said Didu yang paham dengan daerah di dekat kampung halamannya itu.

Sembari menoleh ke belakang menghitung kincir, Said Didu lantas menunjuk-nunjuk kincir dan memastikan tidak sampai 10 persen yang berputar.

“Ada di sana satu (berputar), dari 12 cuma satu yang berputar,” terangnya sambil menunjuk ke arah kincir paling jauh dan memastikan jumlah kincir yang dilihat hanya 12.

Kesimpulan dari pengamatan ini, katanya, adalah rasa prihatin pada PLN yang harus menanggung beban dari pembangunan.

“Mereka harus membeli ini, (padahal) listriknya tidak ada,” tutup Said Didu.

Kebun angin raksasa pertama di Indonesia ini diresmikan Jokowi pada Juli 2018 lalu. Disebutkan bahwa PLTB Sidrap I merupakan pembangkit bertenaga angin skala komersial pertama dan merupakan yang terbesar di Indonesia.

Pembangunannya diklaim sebagai wujud komitmen pemerintah mewujudkan bauran energi primer Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada tahun 2025.
 
Total ada sebanyak 30 kincir angin yang masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 MW. PLTB Sidrap I sendiri diharapkan dapat mengaliri lebih dari 70.000 pelanggan listrik dengan daya 900 Volt Ampere (VA).

Sebagian biaya proyek yang dibangun di atas tahan seluas 100 hektare ini, berasal dari pinjaman Overseas Private Investment Corporation (OPIC), yakni lembaga keuangan pembangunan pemerintah Amerika Serikat sebesar 120 juta dolar AS dengan jangka waktu pinjaman selama 16,5 tahun.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya