Berita

Agnez Mo/Net

Publika

Agnez's Indonesian Blood

SELASA, 26 NOVEMBER 2019 | 22:58 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

BANGUN tidur, buka hape. Arus informasi dan junk chat masuk. Seperti air limbah AMDAL.

Salah satunya sepotong video Agnez Mo. Saya klik video itu. Listen to it. "Jadi negro nih anak," komentar hati saya.

Lalu debat keras dengan Kang Mas Ahmad Dhani Prasetyo. Dia kritik tajam. Saya ga dengar ada kalimat racial slurr or hatespeech.


At the same times, Di medsos banjir hujatan. Cebong-Kampret bersatu serang Agnez Mo. What a phenomenon. Kocak. Luar biasa.

First of all, I am not her fans whatsoever. Never. Ngga tau apa yang pernah dia nyanyikan. Ngga pernah ketemu langsung. Apalagi ngobrol.

Tapi saya curiga potongan videonya incomplete. Di antara banyak caci-maki, ada nyelip postingan link CNN.

Ada video lengkapnya. And guess what, Agnez Mo promosi betapa hebatnya Indonesia with her diversity.

Tabloid ini mengutip beberapa statement Agnez "Nigga Wannabe" Mo seperti di bawah ini:

"Saya tumbuh dalam budaya yang beragam. Inklusi budaya adalah yang saya pilih. Bhineka Tunggal Ika berarti bersatu dalam keberagaman. Saya menyukai ketika saya bisa berbagi sesuatu tentang asal dan negara saya," kata Agnez.

Ya ini translate yang benar. Keliatan she's proud of being Indonesian.

"Sebenarnya saya tidak punya darah Indonesia sama sekali. Saya sebenarnya keturunan Jerman, Jepang, China, saya hanya lahir di Indonesia. Dan saya juga seorang Kristen yang mana di Indonesia mayoritasnya adalah Muslim," kata Agnez.

Di sini herannya. Haters langsung caci-maki kasar mengenai her "chinese-ness". Padahal dia juga sebut German & Japan. Agnez Mo dicaci sebagai China Anti NKRI. Ngeriiih banget.

Kekeliruannya cuma satu di masalah istilah "Indonesian blood". But perhaps, yang dia maksud soal DNA. Itu pun tidak tepat secara perspektif biologis. Plus, diragukan sebelum dia test DNA.

There is no such a thing like pure blood. All of us are composed of mix blood.

Terutama bagi orang-orang Tionghoa di atas enam generasi di Indonesia. Waktu leluhur datang, eranya gold rush. Ada yang keluar Tiongkok, dan mendarat di Amerika dan Kanada.

Bersama dengan para patriot Hanzu pemberontak Dinasti Qing, para gold seekers bergerak ke arah Selatan or Nanyang.

Di Selatan, mereka sampai ke Malaya Peninsula dan Malaka. Terus ke Selatan; mendarat di Bangka Belitong, Medan dan Borneo.

Para pencari emas Tionghoa itu lelaki semua. They interbred with the locals. Tionghoa di Pulau Jawa lebih lama lagi. Dan setiap arus exodus, kaum perempuannya tidak ikut.

"Jadi saya selalu merasa seperti, tahulah, saya tidak akan mengatakan bahwa saya merasa bukan bagian dari sana (Indonesia) karena saya selalu merasa masyarakatnya menerima saya apa adanya," lanjut Agnez.

Penggalan statement ini kunci masalah saat diplintir ngga karuan.

"Namun selalu ada perasaan bahwa saya tidak seperti yang lain. Dan saya pikir itu sungguh mengajarkan saya bagaimana merangkul hal tersebut," katanya

Saya kira, Bahasa Inggrisnya bagus. Smart as. Berani. But obviously some people miss interpret her statements.

All in all, setelah nonton klip lengkapnya, Agnez Mo bikin Indonesia terlihat bagus. Jauh dari kesan intolerans dan radikal. Dia jadi hard proof-nya; Christian singer who has tons of Moslem fans.

Penulis adalah anggota Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya