Berita

Staf Khusus Wakil Presiden, Lukmanul Hakim tersandung masalah hukum/Net

Hukum

Lukmanul Hakim Jadi Stafsus Wapres, Halal Control Jerman Protes Keras

SELASA, 26 NOVEMBER 2019 | 11:46 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Penunjukkan Lukmanul Hakim sebagai Staf Khusus (Stafsus) memicu protes. Pasalnya, Lukmanul dianggap masih tersandung masalah hukum dengan pihak Halal Control Jerman.

Adalah Halal Control Jerman yang merasa diperas oleh Lukmanul, menyatakan protes kerasnya melalui media sosial. Mereka menyebut Lukmanul telah melakukan tindak korupsi dalam proses sertifikasi halal.

"Halal Control Jerman menyatakan protes keras terhadap penunjukkan Dr Lukmanul Hakim sebagai 'Staf Khusus' di kantor Wakil Presiden. Dia telah memeras kami," demikian pernyataan Pendiri Halal Control Jerman, Mahmoud Tatari, Selasa (26/11).


Kasus yang melibatkan Lukmanul dan Halal Control Jerman (HLJ) dimulai pada 2016 silam. Saat itu, sertifikasi halal HLJ habis pada Mei 2015. Namun pihak MUI yang menjadi rujukan tak kunjung menekan surat perpanjangan sertifikasi tersebut hingga Agustus 2015.

Dalam kondisi tersebut, seorang warga negara Selandia Baru bernama Mahmoud Abo Annaser masuk sebagai orang ketiga. Annaser inilah yang kemudian menyebut Lukmanul meminta dana 50 ribu euro untuk penyelesaian sertifikasi halal.

Tatari pun sampai sengaja datang ke Indonesia untuk bertemu Lukmanul yang saat itu menjabat Ketua LPPOM MUI dengan diperantarai Annaser. Ketiganya bertemu di Bogor pada Juni 2016. Meski sempat mempertanyakan permintaan dana tersebut, Tatari akhirnya memilih untuk membayar karena memang sangat membutuhkan sertifikasi tersebut.

Satu tahun kemudian, pihak HLJ mengaku kembali dihubungi Annaser yang meminta fee perpanjangan rekognisi halal MUI. Padahal, surat rekognisi MUI itu berlaku untuk 2 tahun.

Saat itulah Tatari menyadari upaya pemerasan yang dilakukan Annaser. Kemudian melaporkan Annaser dan Lukmanul ke Polres Bogor pada November 2017. Namun hingga kini proses hukum ini mandek.

Pihak MUI sendiri sudah membantah Lukmanul telah melakukan pemerasan. Begitu pula dengan Annaser yang mengaku dana tersebut merupakan fee consulting dirinya dari HLJ.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya