Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Gerakan Nikah

SABTU, 23 NOVEMBER 2019 | 04:43 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

 SETELAH menikah Khasbi Fakih langsung mendirikan Nikah Institute. Bersama istrinya: Nurul Hidayati. Caranya pun sangat sederhana, untuk ukuran era digital. Hanya dengan senjata WhatsApp (WA). Itulah bisnis pengantin baru asal Pekalongan itu, sampai sekarang.
 
Umur perkawinan mereka baru dua tahun. Segitu juga umur Nikah Institute. Alumninya sudah 1.300 orang.
 
Begitu banyak orang ingin menikah. Mereka itulah konsumen Nikah Institute. Mereka bisa mendapat bekal ilmu untuk menikah di situ. Mereka juga bisa bertanya apa saja mengenai pernikahan.
 

 
Nikah Institute lantas membuka kelas: di WA pula. Bentuknya WA Group. Biayanya Rp 275.000. Bisa dibayar dua kali.
 
Pertama dibuka peserta didiknya 98 orang. Mayoritas wanita. Sekitar 70 persen. Meski di WA yang maya kelasnya dipisah. Wanita di kelas tersendiri. Laki-laki terpisah.
 
Nikah Institute punya lima orang guru. Mata pelajarannya fikih nikah, fikih ibadah, datang bulan, nikah-cerai-iddah, tata ara mencari istri/suami, finansial, smart preneur, dan kamasutra.
 
Ada pelajaran kamasutra?
 
"Benar," ujar Khasbi, yang kini berumur 27 tahun. "Bahan-bahannya dari kitab pondok yang muktabaroh," tambah Khasbi.
 
Di pondok pesantren memang dipelajari juga ilmu kamasutra. Sebagai bagian pelajaran di sekitar pernikahan. Untuk level santri yang sudah tinggi. Kitab-kitab gundul di bidang itu misalnya Fathul Izar dan Qurotul Uyun.
 
Kurikulum di Nikah Institute juga sederhana. Pada hari pertama sang guru memberikan pelajaran. Dalam bentuk ceramah di voice note. Suara sang guru bisa diklik di WA Group. Selama satu jam.
 
Hari kedua adalah tanya jawab. Dibatasi 30 pertanyaan. Sebelum jam 12 siang kuota itu biasanya sudah penuh. Saatnya guru memberikan jawaban. Lewat teks, bukan suara. Seperti membalas WA.
 
Seluruh kelas di grup itu bisa membaca pertanyaan siapa pun. Juga bisa membaca jawaban dari guru.
 
Hari ketiga ceramah lagi. Dari guru lain, untuk mata pelajaran lain. Hari berikutnya tanya jawab lagi. Selang-seling hari. Ceramah dan tanya jawab.
 
Begitulah seterusnya. Selama satu bulan. Habis itu Anda pun sudah siap menikah.
 
Bunyi pertanyaan umumnya yang praktis-praktis seperti ini: bolehkah pihak wanita mengajukan permintaan atas nilai dan jenis mahar (mas kawin).
 
Jawab sang guru tidak sekadar boleh atau tidak. "Permintaan seperti itu tidak lazim. Juga kurang baik. Bisa menimbulkan kesan kok belum-belum sudah mata duitan," jawab sang guru. "Tapi, itu boleh saja," jawab sang guru.
 
Ada juga pertanyaan unik: janda kawin dengan duda. Masing-masing membawa anak. Anak mereka saling jatuh cinta. Bolehkah mereka kawin?
 
Jawabnya: boleh. Anak-anak itu tidak memiliki hubungan darah. Bukan muhrim. Tidak saling membatalkan.
 
Khasbi lulusan pondok pesantren Ploso, Kediri. Ia lahir di Lebak Siu dekat Slawi, selatan Tegal, Jateng. Itulah desa yang terkenal di seluruh Indonesia. Kalau ada orang jual martabak LS tanyalah dari mana mereka.
 
Tamat SD Khasbi langsung dikirim ke Ploso, mengikuti jejak anak-anak lain di desa itu. Sampai umur 20 tahun Khasbi belum punya ponsel. Di pondok Ploso santri tidak boleh memegang ponsel.
 
Ia bisa mematikan keinginannya memiliki ponsel. Seperti juga mematikan keinginan mencintai sepak bola. Awalnya ia ingin sekali nonton Liga Italia. Yang lagi top kala itu. "Saya harus  mematikan keinginan nonton bola itu," katanya.
 
Pun Khasbi bisa mematikan keinginan untuk pacaran. Dengan istrinya ini pun Khasbi tidak melewati masa pacaran. Bisa dibilang ketemu langsung kawin.
 
Pertemuan itu terjadi di Seoul, Korea Selatan. Nurul Hidayati lagi kuliah di sana. Tingkat S3. Calon doktor. Bidang nanotechnology.
 
Nurul memang sarjana biologi, dari Unair. Lalu meraih master bidang microbiology. Lantas kerja di STIKES Malang. STIKES-lah yang mengirimnyi ke Korea.
 
Di Seoul Nurul menjadi Ketua Fatayat NU (organisasi pemudi Nahdlatul Ulama) cabang Korea Selatan. Khasbi adalah pengurus Lakesdam (lembaga yang menangani sumber daya manusia) di pengurus pusat NU.
 
Fatayat Korea mengundang Lakesdam. Untuk acara keagamaan di Korsel. Yang ditugaskan ke sana adalah Khasbi. Di Seoul itu pula mereka memutuskan: kawin.
 
Saat Khasbi pulang, Nurul langsung menyusul pulang. Kuliah S3-nya diistirahatkan dulu. Sampai sekarang Nurul belum balik ke Korea. Terlibat usaha Nikah Institute suaminya.
 
Mereka juga berencana meningkatkan usaha itu. Lagi berpikir untuk tidak hanya menggunakan voice note di WA.
 
Dari mana Khasbi mendapat ide bisnisnya itu?
 
"Dari instagram," katanya.
 
Tahun itu Khasbi menemukan instagram yang menggelisahkan hatinya. Yakni adanya kampanye besar "Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran".
 
"Follower instagram itu lebih dari satu juta anak muda," ujar Khasbi.
 
Gerakan itu tidak sebatas di instagram. Juga dilanjutkan dengan pembentukan komunitas "Langsung Kawin". Di seluruh Indonesia.
 
Khasbi khawatir para remaja itu akan kekurangan bekal dalam menikah. Gerakan itu sekaligus membuat kecenderungan menikah muda.
 
Khasbi pun ingin membekali mereka dengan ilmu nikah. Termasuk ilmu mencari istri yang benar. Yang sesuai dengan kaidah agama.
 
Maka jadilah Nikah Institute. Jadilah bisnis itu.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya