Berita

Ketum Nasdem Surya Paloh bertemu PKS/RMOL

Publika

Melawan Sang Raja

SENIN, 11 NOVEMBER 2019 | 01:19 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

TIDAK disangka, Surya Paloh berani melontarkan respon atas pertanyaan Presiden Jokowi di Acara HUT Golkar ke-55.

Nadanya seperti protes. Ada sedikit marah. Ngeles. Merasa dicurigai. Orang mengira orasinya itu adalah bentuk perlawanan.

Bagi Priyayi Jawa klasik, berbalas pantun politik macam begini bisa dianggap tidak santun. Sama artinya; Melawan Sang Raja.


Triangular of force; Jokowi-PKS-Surya Paloh. Pernyataan terbuka Presiden Jokowi di acara Golkar bisa diartikan arahan supaya Golkar merespon manuver Surya Paloh.

Publik dan Pro Jokowi dibuat heran. Nasdem punya tiga kursi kabinet. Bagian dari koalisi pemerintah. Tapi kok ya rangkul-rangkulan dengan kubu oposisi. Mesra pula.

Rasanya Presiden Jokowi is sleeping with the enemy. Snake grass dari genus Natrix tidak punya racun. Tapi "snake in the grass" atau yang disebut Roman poet Virgil sebagai "latet anguis in herba" bisa mematikan.

Seandainya "triangular of force" tadi dibreak-down maka mau tidak mau konsepsi Philosopher Kautilya harus digunakan.

Konsepsinya berbunyi "The enemy of my enemy is my friend".

PKS lawan politik Jokowi. Jadi teman Surya Paloh. Artinya Surya Paloh memposisikan Jokowi sebagai lawan. Sehingga lawan dari lawan adalah teman.

Bila menggunakan Mathematical sociology dan iterative process versi Anatol Rapoport maka "teman dari musuh adalah musuh". Presiden Jokowi mestinya mengadopsi perspektif ini.

Ketika Surya Paloh memutuskan jadi teman dari lawan pemerintah maka tidak ada alasan mempertahankan tiga kursi menteri di kabinet Indonesia Maju.

It is not fair bagi partai lain. Arahan tersirat kepada Golkar punya konsekuensi logis. Presiden Jokowi harus memperkuat amunisi perang. Berikan tiga kursi menteri Nasdem kepada PDIP, Golkar dan Gerindra. Bisa juga satu untuk Golkar dan dua bagi Gerindra.

Jangan beri makan snake grass hingga dia punya kemampuan bermetamorfosis jadi Rattlesnakes.

Penulis merupakan aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya