Berita

Foto: RMOL

Dunia

Konferensi Ditutup, Tiga Tokoh Anti-Imperialisme Muncul Tiba-Tiba

SENIN, 04 NOVEMBER 2019 | 06:19 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Konferensi Solidaritas Anti-Imperialisme untuk Demokrasi dan Perlawanan terhadap Neoloberalisme yang digelar di Hotel Palco, Havana, Kuba, ditutup Minggu sore waktu setempat (3/11) atau Senin pagi waktu Indonesia (4/11).

Penyelenggara Konferensi, Instituto Cubano de Amistad con los Pueblos (ICAP) memberikan kejutan pada peserta yang jumlahnya tidak kurang dari 2.000 orang dari 87 negara.

Kejutan itu berupa kehadiran tiga tokoh kunci Amerika Latin. Ketiganya adalah Sekretaris Pertama Partai Komunis Kuba (PKK) Raul Castro, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Moros.


Tidak ada pemberitahuan resmi sebelumnya dari penyelenggara mengenai kehadiran ketiga tokoh itu. Di sela break makan siang, hanya segelintir peserta yang mendapatkan informasi mengenai kemungkinan kehadiran Presiden Canel dalam penutupan.

Menurut seorang panitia, kemungkinan kehadiran Presiden Canel sekitar 80 persen.

"Ada Presiden lain yang kelihatannya juga akan datang. Kemungkinan kehadirannya juga 80 persen," katanya lagi.

Selain tidak ada pengumuman resmi juga tidak tampak penjagaan khusus menjelang penutupan. Kabar mengenai kehadiran Presiden Canel bersama tokoh lain itu pun tidak dianggap serius.

Namun begitulah, ketiga tokoh itu mendadak muncul di panggung utama. Mereka mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih.

Di platform kehormatan, Raul Castro duduk diapit Presiden Maduro di sebelah kanan dan Presiden Canel di sebelah kiri.

Tepuk tangan dan sorak sorai peserta menyambut mereka berlangsung cukup lama.

Selain mereka bertiga, tokoh lain yang hadir dan duduk di platform kehormatan antara lain adalah Sekretaris PKK Ramon Ventura, Ketua Majelis Nasional Rakyat Kuba Esteban Hernandez, mantan Presiden El Salvador Salvador Sanchez, dan Sekretaris Eksekutif ELBA-TCP Monica Valente.

Dari ketiga tokoh itu hanya Maduro dan Canel yang berbicara di hadapan peserta Konferensi. Maduro bicara pertama kali dengan gaya khas retorikanya yang berapi-api. Lalu Canel berbicara dengan sedikit tenang dan hanya sesekali memperdengarkan nada suara tinggi. Setelah Canel bicara, ketiganya bersama tokoh lain di platform kehormatan meninggalkan ruangan.

Seperti kedatangan mereka yang terkesan tiba-tiba, tepuk tangan dan sorak sorai melepaskan kepergian mereka juga berlangsung cukup lama.

Dalam pernyataannya sekitar 30 menit, Maduro menyinggung semua persoalan yang sedang terjadi di banyak negara di Amerika Latin, seperti Chile, Nikaragua, Honduras, Ekuador, dan tentu saja Venezuela.

Gejolak politik di negara-negara itu, sebutnya, terjadi karena intervensi dan campur tangan Amerika Serikat yang ingin mendapatkan keuntungan dari negara-negara Amerika Latin.

Maduro juga menyampaikan solidaritasnya pada mantan Presiden Brazil Lula da Silva yang kini ditahan oleh pemerintahan Brazil yang dianggap merupakan kepanjangan tangan AS.

Seperti pembicara-pembicara lain dalam Konferensi ini, Maduro juga mengajak masyarakat internasional untuk bersatu menghadapi neokolonialime dan neoimperialisme yang hadir dalam wujud neoliberalisme.

Adapun Canel pada bagian awal sambutannya mengurai persoalan yang kembali dihadapi Kuba dengan Amerika Serikat.

Setelah hubungan kedua negara sempat mengalami perbaikan di tahun 2015 dan 2016, kini Amerika Serikat kembali berusaha menghancurkan Kuba lewat blokade ekonomi yang menyengsarakan rakyat.

Dia mengatakan bahwa rakyat dan pemerintah Kuba bersatu menghadapi tekanan AS itu.

Presiden Canel juga menyampaikan dukungannya pada upaya reunifikasi Korea, selain menolak sanksi yang diberikan AS kepada Korea Utara.

Selain itu, dia juga mengatakan dukungannya pada perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan Israel yang didukung AS.

Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

PT DSI Fokus Genjot Ekspor 3 Komoditas Ini

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:53

Kasus Abu Janda jadi Ujian Polri, Akankah Pilih Kasih?

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:32

Nahdliyin DIY Soroti Konflik PBNU dan Arah Organisasi

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:10

Prabowo Dijadwalkan Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila Besok

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:01

Kedekatan Prabowo dengan Tiga Pemimpin Adidaya Untungkan Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:43

Kamboja Bebaskan Denda Overstay 5.950 WNI Terjerat Kasus Online Scam

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24

Rekam Jejak Ryamizard Ryacudu: Dari Titisan Darah Militer hingga Kursi Eksekutif

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:05

Meski Disidangkan, Kasus LCC Empat Pilar Perlu Pertimbangkan Jalan Damai

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:44

Program Bioflok Presiden Prabowo di Karawang Sukses Panen Raya 1,2 Ton Ikan Nila

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:34

Warisan Bung Tomo: Lawan Pemimpin yang Tak Berpihak pada Rakyat Kecil!

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya