Berita

Nadiem Makarim/Net

Politik

Nadiem Tepat Jadi Mendikbud, Yang Jadi Masalah Tinggal Kebijakan Ekonomi Jokowi

MINGGU, 03 NOVEMBER 2019 | 19:55 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Pemilihan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dianggap sudah tepat. Nadiem merupakan sosok muda berbakat yang mampu melangkah maju untuk perubahan ekonomi Indonesia.

Namun, pengembangan ekonomi di Indonesia dinilai belum siap menerima latar belakang Nadiem sebagai pengembang dunia digital.

Pernyataan tersebut terlontar dari Sosiolog dari Universitas Indonesia Tamrin Amal Tamagola di acara Lembaga Survei Indonesia (LSI) dengan tema “Tantangan Intoleransi dan Kebebasan Sipil Serta Modal Kerja Pada Pemerintahan Periode Kedua Jokowi” di Hotel Erian, Jakarta Pusat, Minggu (3/11).


Tamrin menilai Presiden Joko Widodo kerap memberikan pernyataan terkait mengedepankan perbaikan di sektor sumber daya manusia (SDM) dalam rangka menghadapi persaingan global dan revolusi industri 4.0 dan 5.0.

Namun sayangnya, Presiden Jokowi belum menyiapkan aturan pendidikan dan ekonomi yang relevan dengan 4.0 dan 5.0, khususnya dengan kualifikasi keilmuan Nadiem.

"Yang belum benar itu adalah pada saat Jokowi menaruh Nadiem di situ, dia belum mengubah kebijakan ekonomi yang dasarnya dari ekstraktif ke produktif. Karena mesti nyambung antara apa yang mau dihasilkan oleh Nadiem dalam pendidikan dengan kegiatan ekonomi produktif dan nyambung juga dengan kebijakan ekonomi pemerintah yang memang mengarah ke situ,” ungkap Tamrin di Hotel Erian, Jakarta Pusat, Minggu (3/11).

Tamrin menganggap posisi Nadiem sebagai Menteri Pendidikan sudah tepat untuk menciptakan SDM Indonesia yang siap menghadapi ekonomi masa depan.

"Nadiem itu sudah benar ditaruh di situ karena dia tahu tentang ekonomi masa depan. Yang terpengaruh dengan 4.0 dan 5.0 itu,” paparnya.

Di sisi lain, Tamrin juga menilai misi Presiden Jokowi sama seperti Soeharto yang fokus pada pembangunan infrastruktur. Jokowi, kata Tamrin, pada periode kedua ini juga menekankan konsentrasi ekonomi dengan dibarengi stabilitas hukum.

"Sehingga tidak boleh ada gangguan stabilitas ekonomi. Tetapi sebenarnya yang jadi duduk perkara dengan ekonomi sebenarnya bukan di situ. Duduk perkaranya ekonomi yang dikembangkan Jokowi masih ekonomi ekstraktif bukan ekonomi produktif," jelas Tamrin.

Menurut dia ekonomi ekstraktif pernah dilakukan saat Orde Baru. Seharusnya, untuk tantangan saat ini, Presiden Jokowi harus mengedepankan ekonomi produktif.

"Ekonomi produktif itu lebih diutamakan, kalau ekstraktif ini kan lama-lama habis itu tambang-tambang, kemudian kelapa sawit juga terbatas akan habis," jelas dia.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya