Berita

Aksi di Ukraina/Net

Dunia

Kebijakan Pemerintah Beri Otsus Ke Wilayah Konflik Justru Jadi Bumerang

SELASA, 15 OKTOBER 2019 | 17:43 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kebijakan pemerintah dalam mendamaikan konflik tidak selamanya memuaskan semua pihak. Setidaknya hal itu yang dialami Presiden Ukraina Zolodymyr Zelensky dalam mendamaikan Ukraina timur.

Dalam upaya mendamaikan wilayah negaranya itu, Zelensky memberi otonomi khusus (otsus) pada wilayah Donbass. Namun kebijakan ini seperti menjadi bumerang.

Pasalnya, pada Senin (14/10), sekitar 20 ribu orang, termasuk veteran perang negara itu turun ke jalan untuk memprotes keputusan tersebut.


Dilansir dari Channel News Asia, aksi ini dilakukan karena pemberian otonomi khusus Donbass hanya akan membuat wilayah itu diambil alih oleh Rusia. Ini mengingat Donbass sendiri dikuasai oleh pemberontak pro Rusia selama konflik lima tahun terakhir.

"Kami ingin perdamaian, tapi kami ingin itu dilakukan secara berbeda. Kami juga tidak ingin anak-anak kami mati, tetapi kami ingin tanah kami tetap menjadi milik kami dan tidak ada musuh di tanah kami," ujar seorang pengunjuk rasa, Ludmyla Linnyk.

Menurut mayoritas warga Ukraina, keputusan Zelensky adalah sebuah bentuk pengkhianatan. Namun, Zelensky yang baru menjabat pada April lalu berjanji dia tidak akan melintasi garis merah untuk menghentikan konflik di Ukraina timur yang telah menewaskan lebih dari 13 ribu orang tersebut.

Dalam konsensus yang diadakan pada bulan lalu, negosiator Ukraina, Rusia dan kelompok separatis menyepakati beberapa hal, di antaranya pemberian otonomi khusus pada Donbass dan penarikan pasukan Ukraina dari sana demi terciptanya gencatan senjata.

Untuk menindaklanjuti kesepakatan ini, Zelensky mengaku akan mengadakan pembicaraan empat arah dengan Rusia, Jerman, dan Perancis.

Menurut Menteri Luar Negeri Ukraina Vadym Prystaiko, para pemimpin keempat negara akan bertemu di Paris pada pertengahan November, jika Ukraina dan pemberontak pro-Rusia dapat mempertahankan gencatan senjata. 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya