Berita

Konsep Jokowinomic dinilai masih belum bisa menyentuh masyarakat desa/Net

Politik

Jokowinomic Belum Sentuh Sektor Ekonomi Desa Dan Organisasi Ekonomi Rakyat

SELASA, 15 OKTOBER 2019 | 10:25 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Tulisan Natalius Pigai yang membedah konsep Jokowinomic mendapat tanggapan banyak pihak. Ada kegelisahan yang muncul dari tulisan Pigai soal Jokowinomic. Terutama menjelang periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Mantan Menteri Negara Transmigrasi dan Kependudukan di era Gusdur, Ir Al Hilal Hamdi, menilai Pigai telah membedah dan menganalisis secara tajam konsep Jokowinomic.

Al Hilal pun mendukung pernyataan Pigai yang menyebut disparitas ekonomi di Indonesia masih terlalu besar. Terutama antara ekonomi desa dan kota.


"Penguatan peran negara, baca BUMN, telah menempati peran utama dalam berbagai pembangunan infrastruktur. Tapi sekali lagi, (hanya) meramaikan kekuatan adi kapital tanpa cukup menyerap atau mendorong peran serta masyarakat banyak," ucap Al Hilal melalui keterangan tertulisnya, Selasa (15/10).

Menurut alumnus ITB ini, Jokowi memang telah melakukan upaya untuk menambah kesejahteraan masyarakat desa. Di antaranya dengan menambah besar pengucuran dana desa. Lalu jaring kesejahteraan masyarakat - utamanya BPJS - diperluas jangkauan pelayanannya.

Namun, hal itu masih belum mampu menyentuh ekonomi desa secara signifikan. Karena tetap saja korporasi alias para pemodal besar yang punya peran dalam mengatur perekonomian rakyat.

"Natalius Pigai, sekali lagi, menyorot belum tersentuhnya sektor ekonomi desa, kebun dan organisasi ekonomi rakyat, sebagaimana FELDA di Malaysia. Di Indonesia peran kebun plasma masih di pinggiran, sangat tergantung kepada korporasi inti sebagai induk," bebernya.

"Mungkin pada periode keduanya, Jokowinomic bakal lebih diperkuat, berbarengan dengan upaya kemandirian atau swasembada pangan, energi, dan berbagai kebutuhan pokok kita. Itulah harapan yang bisa kita tangkap dari kegelisahan Pigai dan kita," pungkas Al Hilal.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya