Berita

Joko Widodo/Net

Bisnis

Ini Kata Politisi Senayan Soal Tulisan Konsep Jokowinomic Natalius Pigai

SELASA, 15 OKTOBER 2019 | 08:51 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tulisan Natalius Pigai tentang Jokowinomic untuk orang miskin terpinggirkan sedang menjadi pembicaraan khalayak. Tulisan tersebut bahkan memicu politisi Senayan hingga pengamat pun untuk angkat bicara.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Maulani salah satunya. Dia menilai bahwa tulisan tersebut menarik. Namun menurutnya, ide dan gagasan dalam tulisn tersebut tidak banyak yang mengetahui sehingga sulit diimplementasikan.

"Istilah nomic sepertinya sudah menjadi tren. Ada Habibienomic, SBYnomic, Jokowinomic. Istilah itu hanya menjelaskan soal skala prioritas, strategi kebijakan pembangunan ekonomi, Itu sesuai selera pemimpin," kata Viva Yoga dalam keterangannya kepada redaksi Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (15/10).


"Pak Mubyarto memopulerkan Ekonomi Pancasila, kemudian dilanjutkan anak didiknya Revrisond Baswir. Tapi konsep pak Muby tidak dipakai oleh pemerintah. Hanya jadi wacana di kampus. Kebijakan ekonomi Pemerintah tidak teridentifikasi secara teoritis. Apakah itu liberalisme, kapitalisme, apakah itu kroniisme, jenggoisme, dan sebagainya," sambungnya.

Lebih lanjut dia menambahkan bawa appa yang bisa dia tafsirkan dari pemikiran Soekarno, Pancasila adalah sosialisme religius.

"Ideologi yang bersifat monoteistik, bukan paganisme, bukan ateisme, kemanusiaan, kebangsaan, demokrasi, keadilan sosial," tuturnya.

"Harusnya fokus saja di Pancasila. Pembangunan ekonomi itu prioritas soal keadilan ekonomi dan sosial, sistem ekonomi yang adil, tidak individual-kapitalistik, tidak KKN, tapi yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang sosialistik-religius, Menghilangkan ketidakadilan struktur ekonomi yang hanya menguntungkan kelompok tertentu dan menyebabkan kemiskinan struktural," sambung politisi Senayan ini.

Cara pandang yang berbeda di Sampaikan oleh Wakil Ketua Umum Gerinda Arif Poyuono. Menurutnya, konsep Jokowinomic hanya bisa jalan bisa ekonomi moneter tidak diliberalisasi.

"Bagaimana Jokowinomic berjalan kalau semua transaksi bisnis dilakukan melalui sistem perbankan asing bukan melalui perbankan Milik negara. Kita mesti belajar negara lain seperti China, Bahwa Membangun ekonomi nasional harus Punya Know How tentang  perubahan ekonomi dunia dalam 35 tahun mendatang," ujarnya.  

"Terutama terkait perkembangan tumbuhnya negara negara Industri baru dan terus berkembang ekonomi China. Dari mereka apa yang sangat mereka butuhkan dan industri berbasis apa yang bisa kita kembangkan dari yang Kita miliki sehingga ada keberpihakan itu baru namanya Jokowinomic untuk orang miskin terpinggirkan," ujar Poyuono dalam pesan singkatnya.

Sementara itu Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya ('nBASIS)  menurut professional Shohibul Anshor Siregar menilai bahwa tulisan tersebut semestinya ditanggapi oleh professional yang membantu pemerintah dan akademisi untuk terus dikembangkan.

"Banyak orang tak konsepsional menyebut Jokowinomic. Apa iya? Jangankan Jokowi, Indonesia saja hingga kini tak memiliki disain makro ekonomi. Yang ada cuma merancang sikap manis di hadapan kapital dan negara pendikte," tuturnya.

"Make no mistake, Indonesia tidak akan seburuk ini jika dipandu oleh garis besar cita-cita bangsa," sambungnya.

Die mengingatkan kembali bahwa misi negara dalam konstitusi itu adalah melindungi segenap tumpah darah dan seluruh bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mensejahterakan kehidupan bangsa.

"Pada sejumlah pasal masih banyak aturan tentang pemenuhan hak warga negara yang wajib dijamin oleh negara," tambahnnya dalam unggahan di sosial media.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

TNI AL dan Kemhan Belanda Bahas Infrastruktur Bawah Laut Kritis

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:00

Beda Imlek dan Cap Go Meh, Ini Makna dan Rangkaian Tradisinya

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:52

Kabar Baik! Bansos PKH dan Bencana Bakal Cair Jelang Lebaran

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:36

KPK Sita 50 Ribu Dolar AS dari Kantor dan Rumah Dinas Ketua PN Depok

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:27

Mengupas Multi Makna Kata 'Lagi'

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:18

Keberadaan Manusia Gerobak Bakal Ditertibkan Jelang Ramadan

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:07

Prabowo Diyakini Bisa Dua Periode Tanpa Gibran

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:02

KPK Endus Pencucian Uang Korupsi Sudewo Lewat Koperasi

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

Selengkapnya