Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump/Net

Dunia

Setelah Cuci Tangan Soal Suriah, Trump Tampar Turki Dengan Kenaikan Tarif Baja

SELASA, 15 OKTOBER 2019 | 06:49 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui sanksi terhadap para pemimpin Turki serta menerapkan kembali tarif baja dan mengakhiri negosiasi perdagangan.

Langkah ini diambil sebagai bentuk protes atas kampanye militer yang dilancarkan Turki ke Suriah untuk memberas milisi Kurdi pasca Amerika Serikat menarik mundur pasukannya.

"Saya sepenuhnya siap untuk segera menghancurkan ekonomi Turki jika para pemimpin Turki terus menempuh jalan berbahaya dan destruktif ini," kata Trump dalam sebuah pernyataan.


Trump memastikan bahwa dia telah mengeluarkan perintah eksekutif untuk mengizinkan sanksi pada sejumlah pejabat yang masih aktif dan mantan penjabat Turki.

Dia juga menerapkan kembali tarif 50 persen pada baja Turki. Sebelumnya pada Mei lalu, Trump pernah menurunkan tarif tersebut kembali ke 25 persen.

Langkah tegas ini diambil Trump setelah sebelumnya dia kebanjiran kritik karena dianggap "cuci tangan" atas tindakannya menarik mundur pasukan Amerika Serikat di timur laut Suriah.

Trump mendapat kecaman keras di dalam negeri karena tampaknya memberikan restunya kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk melakukan kampanye militer.

Trump mengatakan bahwa Kurdi Suriah bukan urusan Amerika Serikat dan bahwa siapa pun dipersilakan untuk membantu mereka "apakah itu Rusia, China atau Napoleon Bonaparte," kata Trump.

Namun Trump segera mengambil langkah tegas menjatuhkan sanksi kepada Turki tidak lama setelah itu.

"Saya sudah sangat jelas dengan Presiden Erdogan: Tindakan Turki memicu krisis kemanusiaan dan menetapkan kondisi untuk kemungkinan kejahatan perang," kata Trump dalam sebuah pernyataan (Senin, 14/10).

"Turki harus memastikan keselamatan warga sipil, termasuk minoritas agama dan etnis, dan sekarang, atau mungkin di masa depan, bertanggung jawab atas penahanan teroris ISIS yang sedang berlangsung di kawasan itu," tambahnya seperti dimuat Channel News Asia.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya