Berita

Menko Polhukam Wiranto saat menjalani perawatan di RSUD Pandeglang/Istimewa

Pertahanan

Mantan Menko Polhukam: Wiranto Ditusuk Karena Tim Pengamanan Teledor

JUMAT, 11 OKTOBER 2019 | 15:17 WIB | LAPORAN: AMAL TAUFIK

Tim pengamanan Menko Polhukam Wiranto dianggap teledor. Bukan tanpa alasan, hal ini terjadi karena tim keamanan bisa kecolongan sehingga Wiranto menjadi korban penusukan saat berkunjung di Pandeglang, Banten.

"Hanya ini mungkin ada sedikit keteledoran," ujar mantan Menko Polhukam Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhy Purdijatno kepada wartawan usai jenguk Wiranto di Pavliun Kartika, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Jumat (11/10).

Tedjo menambahkan, prosedur pengamanan seorang menteri sudah jelas dan sudah ada protapnya. Dia menduga, selain keteloderan pengamanan, Wiranto juga dianggap terlalu dekat dengan warga.


"Sebetulnya prosedur atau protap pengamanan sudah ada, mungkin beliau terlalu dekat dengan orang-orang (masyarakat)," imbuhnya.

Saat disinggung apakah menteri di era Jokowi tidak suka pengawalan yang ketat, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) ini mengamininya. Menurutnya, hal ini dikarenakan para menteri ingin dekat dengan masyarakat.

"Sebetulnya saya dulu juga demikian. Pengawalan yang ketat, bunyi-bunyian, kita tidak suka. Kita ingin dekat dengan masyarakat," pungkasnya.

Seperti diketahui, Wiranto mengalami luka di bagian perut usai ditusuk seseorang. Peristiwa ini terjadi saat Wiranto keluar dari mobil RI 16 yang ditumpanginya saat berkunjung di alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, Kamis lalu (10/10).

Saat turun, dengan cepat pelaku langsung menikamkan bagian perut Wiranto. Akibat kejadian itu, Wiranto langsung tersungkur.

Wiranto sempat mendapat pertolongan pertama dan dilarikan ke RSUD Pandeglang, Banten. Tak lama, Wiranto langsung diterbangkan menggunakan helikopter menuju RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Sementara dua pelaku bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara (31) dan Fitri Andriana (21) sudah diamankan di Mapolsek Menes, Banten.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya