Berita

Protes di Ekuador/Net

Dunia

Presiden Ekuador Menolak Mundur, Gelombang Protes Semakin Anarki

KAMIS, 10 OKTOBER 2019 | 07:06 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Gelombang unjuk rasa anti-pemerintah belum juga reda di ibukota Ekuador, Quito pekan ini.

Ribuan pengunjuk rasa yang terdiri dari masyarakat adat, serikat pekerja, mahasiswa dan masyarakat setempat kembali terlibat perselisihan dengan polisi anti huru hara di tengah aksi unjuk rasa.

Mereka masih menyuarakan pencabutan langkah-langkah penghematan yang dilakukan pemerintah dengan salah satunya mencabut subsidi bahan bakar minyak.


Langkah tersebut telah memicu kerusuhan politik terburuk dalam satu dekade di Ekuador. Karena buruknya situasi di ibukota, Presiden Ekuador Lenin Moreno awal pekan ini memutuskan untuk memindahkan pemerintahannya ke kota pelabuhan Guayaquil.

Pencabutan subsidi bahan bakar yang dilakukan oleh pemerintahan Moreno menyebabkan harga bensin melonjak sepertiga dan biaya diesel menjadi lebih mahal dua kali lipat.

Langkah pemerintah Moreno dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan pinjaman 4.2 miliar dolar AS dengan Dana Moneter Internasional yang dicapai tahun lalu yang bergantung pada reformasi pengetatan sabuk.

Para pengunjuk rasa mendesak Moreno untuk mundur.

"Apa yang telah dilakukan pemerintah adalah memberi imbalan kepada bank-bank besar, kapitalis, dan menghukum warga miskin Ekuador," kata Mesias Tatamuez, kepala serikat pekerja Front Persatuan Buruh yang ikut menggelar aksi di luar gedung parlemen Quito.

Protes masyarakat adat di masa lalu berperan dalam menggulingkan pemerintah. Sebagai contoh, presiden terguling Abdala Bucaram pada 1997, Jamil Mahuad pada 2000 dan Lucio Gutiérrez pada 2005. Semuanya digulingkan dari kursi kekuasaan setelah terlebih dahulu diprotes oleh masyarakat adat.

Jaime Vargas, pemimpin konfederasi pribumi Ekuador Conaie, mengatakan tidak akan ada dialog sampai pemerintah membatalkan perintahnya untuk mengakhiri subsidi.

"Jika dicabut orang-orang akan memutuskan apakah kita akan berbicara atau tidak, tetapi kita marah karena kita memiliki beberapa yang terluka, beberapa ditahan dan beberapa mati, dan ini tidak akan bertahan," tegasnya seperti dimuat The Guardian.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Telkom Cegah Kerusakan Terumbu Karang Lewat Program ‘Bisa Biru’

Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05

Cak Imin dan Parpol Sahabat Ikut Merumput di Turnamen Minisoccer Harlah PKB

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38

Kebutuhan Dana B50 Capai Rp32,3 Triliun, BPDP Pastikan Kas Aman

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36

Baliho Ulang Tahun Jokowi Disoal, Pengamat Minta PPID Buka Dokumen Perizinan

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23

Kejagung Teken Tiga Sprindik Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16

Zulhas Ungkap Dua Fungsi Utama Kopdes Merah Putih, Tegaskan Bukan Supermarket

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08

IHSG Sore Ini Menguat ke 6.041, Rupiah Ditutup Rp18.068 per Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00

Menpar Jamin Setiap Rupiah Anggaran Negara Dikelola Akuntabel

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51

Sentuhan Teknologi Digital Mudahkan Masyarakat Ikuti Gerakan Sedekah Subuh

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48

Curiga Ada Intervensi Jelang Musda Demokrat Aceh, Kader Kirim Surat Terbuka ke AHY

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47

Selengkapnya