Berita

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres/Net

Dunia

Negara-negara Anggota Tunggak Iuran, PBB Terancam Bangkrut

SELASA, 08 OKTOBER 2019 | 17:18 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terancam bangkrut. Pasalnya, organisasi yang terdiri dari 193 negara ini mengalami defisit anggaran hingga 230 juta dolar AS atau setara dengan Rp 3,2 triliun (kurs: Rp 14.171/dolar AS).

"Negara-negara anggota hanya membayar 70 persen dari total yang diperlukan untuk operasi anggaran rutin kami pada 2019. Ini berarti kami kekurangan uang tunai sebesar 230 juta dolar AS," ujar Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Senin (7/10).

Seperti diberitakan Channel News Asia, Guterres mengaku PBB mungkin akan kehabisan uang pada akhir Oktober ini, karena harus menghadapi risiko menipisnya cadangan likuiditas.


Guterres pun menulis surat untuk 37.000 karyawan di Sekretariat PBB, New York, Amerika Serikat. Guterres menyampaikan, ada langkah-langkah kesenjangan tambahan yang harus diambil untuk memastikan gaji dan hak tetap dibayarkan.

Untuk mengurangi pengeluaran, Guterres menyebutkan akan menunda konferensi dan pertemuan serta mengurangi pelayanan. PBB juga akan membatasi perjalanan resmi hanya untuk kegiatan penting dan mengambil langkah-langkah untuk menghemat energi.

Pada awal tahun ini Guterres telah meminta negara-negara anggota untuk meningkatkan kontribusinya. Tetapi menurut seorang pejabat yang tidak diketahui namanya, para negara anggota menolak untuk berkontribusi.

Diketahui, tidak termasuk operasi pemeliharaan perdamaian, anggaran operasi PBB untuk 2018-2019 mendekati 5,4 miliar dolar AS atau Rp 76 triliun. Dari total anggaran tersebut, Amerika Serikat berkontribusi sebesar 22 persen.

Data dari Statista menunjukkan, hingga 20 Agustus lalu PBB baru menerima 64,5 persen dari total anggaran yang dibutuhkan. Artinya, PBB hanya menerima 1,8 miliar dolar AS atau Rp 25,5 triliun dari total 2,8 miliar dolar AS atau Rp 39,6 triliun.

Adapun anggota yang tidak membayar iuran didominasi oleh negara-negara berkonflik, seperti di Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya