Berita

Jepang dan AS mencapai kesepakatan dagang baru/Net

Dunia

Teken Perjanjian Dagang Dengan Jepang, Trump: Ini Kemenangan Besar AS

SELASA, 08 OKTOBER 2019 | 13:15 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Amerika Serikat (AS) dan Jepang meraih kesepakatan baru, Senin (7/10). Pasalnya, kedua negara telah menandatangani perjanjian perdagangan terbatas yang mencakup bidang agrikultur hingga produk digital.

"Ini adalah kemenangan besar bagi petani dan peternak AS. Dan itu sangat penting bagi saya," ujar Presiden AS Donald Trump dalam acara penandatangan di Gedung Putih, diberitakan Associated Press.

Pernyataan Trump ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, sejak Trump menarik AS dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), para petani AS mengalami kerugian. Mereka makin sulit bersaing dengan produsen pertanian besar seperti Selandia Baru dan Kanada.


Meski sudah ada kesepakatan, Direktur Senior McLarty Associates, Tami Overby mengatakan AS telah jauh tertinggal sejak keluar dari TPP. Karena banyak negara yang telah menandatangani kontrak multitahun dengan Jepang.

"Kita harus kembali dan berjuang untuk mendapatkan pangsa pasar," ujar konsultan perdagangan itu.

Berdasarkan perjanjian tersebut, dilaporkan Channel News Asia, Jepang akan memangkas tarif ekspor pertanian AS senilai 7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 99 triliun (kurs: Rp 14.154/dolar AS), termasuk daging sapi dan babi. Serta mengurangi kenaikan harga pembelian gandum dan jelai AS.

Sebagai imbalannya, AS akan memotong tarif untuk barang-barang pertanian Jepang senilai 40 juta dolar AS atau Rp 566 miliar. Kemudian mengurangi kuota tarif terhadap daging sapi, yang memungkinkan Jepang mampu bersaing untuk merebut pasar AS yang lebih besar.

Dalam perjanjian terpisah, para pejabat AS dan Jepang juga sepakat untuk menghapuskan bea atas produk-produk digital seperti video, musik, dan e-book, serta memastikan transfer data bebas hambatan.

Selain itu, pada bulan lalu, pejabat Jepang juga mengatakan AS telah berjanji untuk tidak mengenakan tarif untuk ekspor mobil Jepang.

Di sisi lain, saat ini AS masih menghadapi alotnya pembicaraan kesepakatan dagang dengan China. Delegasi kedua negara diketahui akan kembali bertemu pada Kamis (10/10) di Washington.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya